Ketika Doa Menjadi Kado Terindah

Oleh : Ayu Andika Putri

Doa bukanlah “ban serep” yang dapat kau keluarkan ketika susah, melainkan “kemudi” yang menuntunmu ke arah yang lurus.

“Sasaaaaaa” teriakku memecah keheningan di pagi yang sunyi itu.
“Apaan sih pagi – pagi udah teriak – teriak nggak jelas gitu” ucap Sasa sambil pura – pura cemberut.
“Udah nggak usah pura – pura cemberut gitu deh, aku tau kok kamu cuma pura – pura. Hayoo ngaku” ucapku sambil menggodanya.
“Iya iya aku cuma pura – pura, Din.”
Ini lah kami, dua sahabat yang selalu bersama kemanapun kami pergi. Perkenalkan namaku Dinda, Dinda Aulia Zahra dan sahabatku Sasa, Sasa Febriliansari. Kami sudah 6 tahun berteman hingga saat ini kami semester 2 di kelas 8 SMP Tunas Melati di daerah Bandung.
“Sa, masuk kelas yuk?” ajakku kepada Sasa
“Hmm, masih males nih mending ke kantin dulu beli makanan buat nanti di kelas”
“Iya deh ayuk ke kantin”
Setelah membeli makanan di kantin, kami pun menuju kelas. Kebetulan kami tidak sekelas tetapi kelas kami bersebelahan. Saat istirahat tiba, aku sering bermain ke kelas Sasa dan begitupun sebaliknya.
Akhirnya istirahat pertama pun tiba. Aku langsung menghambur keluar kelas dan menunggu Sasa di depan kelasnya dan tak lama kemudian Sasa memukul pundakku, “heyy, ngelamun aja neng” sapanya.
“Ihh Sasa bikin kaget aja sih”
“Ya lagian kamu ngelamun sendirian di sini. Yuk ke perpustakaan cari – cari novel baru.” Aku belum sempat menjawabnya tetapi Sasa sudah menarik tanganku dan kami pun menuju perpustakaan. Kami memang sering menghabiskan waktu di perpustakaan saat jam istirahat pertama. Membaca banyak buku karena kami juga hobi membaca. Mencari pengetahuan seluas – luasnya.
“Liat deh Sa, ada novel baru nih sepertinya bagus?”
“Iya nih kayaknya bagus, covernya aja udah menarik banget”
Kamipun langsung membaca novel itu hingga bel tanda masuk berbunyi yang memaksa kami untuk kembali ke kelas masing – masing. Pelajaran demi pelajaranpun telah usai dan akhirnya saat yang paling ditunggu – tunggu oleh semua murid, yaitu waktu pulang.
Seperti biasa, aku dan Sasa selalu pulang bersama karena kebetulan juga rumah kami satu komplek.
“Dinda, tunggu donk jangan cepet – cepet naik sepedanya”
“Perasaan nggak cepet deh? Biasa aja ini” jawab Dinda sambil melambatkan laju sepedanya.
“Eh Din, kita lewat jalan lain yuk jangan lewat jalan biasanya. Kata Papaku kalau kita ke arah barat sana, ada sebuah taman yang indah dipenuhi bunga – bunga dan banyak hutan pinus juga.”
“Ohya? Jauh nggak?”
“Nggak juga sih. Mungkin 20 menit, kita bakal sampe rumah.”
“Oke, ayo kita lewat sana”
Akupun mengikuti Sasa dan akhirnya kita sampai di jalanan yang tidak begitu ramai, pemandangan yang indah, udara yang sejuk, dan suasana yang masih asri.
 “Wah tempat ini keren, Sa”
“Iya, aku juga baru tahu kalau ada tempat ini. Seandainya papaku nggak cerita, aku nggak bakal tahu tempat ini. Kapan – kapan kita main ke sini yuk?”
“Iya kapan – kapan kita main ke sini”
Benar apa yang dikatakan Sasa, 20 menit kemudian, kita sampai di rumah masing – masing.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam. Kamu abis darimana aja kok pulangnya agak lama?” Tanya mama kepadaku.
“Aku habis lewat jalan lain yang lebih jauh, Sasa yang ajakin aku katanya di sana keren tapi emang bener Ma di sana keren tempatnya.”
“Emang kamu habis lewat jalan mana?”
“Muter ke arah barat sana, Ma. Banyak bunga – bunga, banyak pohon pinus juga”
“Ooo ke situ, mama tahu tempat yang kamu maksud”
“Bener, Ma?”
“Iya beneran, mama pernah ke sana tapi sudah lama sekali”
“Aku kapan – kapan mau ke sana Ma sama Sasa”
“Iya tapi hati – hati ya.”
“Iya Ma bakal hati – hati kok”
“Yauda sekarang makan dulu sana, mama sudah siapin makan buat kamu”
“Oke Ma, aku ganti baju dulu abis itu makan”
Setelah selesai mengganti baju seragamnya dengan baju rumahan, Dinda langsung menyantap makanan yang sudah di siapkan oleh mamanya. Setelah selesai makan, Ia tertidur hingga  sekitar pukul 17.00. Ia terbangun dan mendapati matahari mulai tenggelam. Ia pun bergegas mandi dan menyiapkan buku untuk pelajaran esok hari.
Ketika malam tiba, Dinda mulai mengerjakan tugas – tugasnya dan tak lupa membaca buku pelajaran untuk hari esok. Dinda memang anak yang rajin dan terkenal pintar di kelasnya.
Keesokan harinya, Dinda berangkat ke sekolah sendirian karena Ia berangkat siang sedangkan Sasa selalu berangkat pagi sekali. Meski mereka bersahabat, tapi tak semua hal mereka lakukan bersama, namun hampir 99% kegiatan mereka kerjakan berdua.
Sekitar lima menit kemudia Dinda sampai di sekolah dan seperti biasanya, Dinda selalu menghampiri Sasa. Pagi itu Sasa tak ada di kelasnya dan Dinda pun tahu dimana keberadaan Sasa, pasti di kantin. Ternyata benar dugaan Dinda, orang yang Ia cari sedang sarapan di sana.
“Hai Sasa, selamat pagi”
“Pagi juga Dinda. Kok kamu tau sih kalau aku di sini ?”
“Iya donk aku udah hafal kebiasaanmu.”
“Nih kamu mau makan nggak? Aku beliin nih.”
“Nggak deh makasih. Aku nggak kepengen beli apa - apa”
Begitulah Dinda dan Sasa, seperti amplop dan perangko. Dimana ada Dinda pasti ada Sasa dan begitulah seterusnya. Sampai akhirnya Ujian Kenaikan Kelas (UKK) tinggal menghitung hari. Semua murid disibukkan dengan tugas – tugas dan ulangan harian. Waktu bermainpun menjadi berkurang.
“Dindaa” sapa Sasa di siang hari H-2 ujian kenaikan kelas
“Hai Sasa. Seneng banget nih kamu keliatannya? ”
“Ya seneng donk soalnya ketemu kamuu”
“Tiap hari kita juga ketemu, Sa”
“Iya sih. Oiya udah mau UKK nih cepet banget, tinggal menghitung hari. Jangan lupa sholat dan berdoa sama Allah supaya dimudahkan dalam melaksanakan UKK, dapet nilai yang memuaskan, dan bisa naik kelas juga. Hmm gimana kalau sekarang sholat dhuhur dulu? Udah masuk waktu dhuhur nih.”
“Hmm, nanti dulu deh Sa, masi males”
“Ihh kamu tuh jangan males – malesan donk, udah mau UKK jangan males”
“Iya deh iya aku sholat.” Jawab Dinda sambil mengikuti Sasa menuju mushola walau sebenarnya dia malas sekali.
Hari – hari berikutnya mereka disibukkan dengan belajar dan belajar karena sedang menghadapi UKK. Dinda sangatlah tekun dalam belajar, hampir tak ada waktu untuk bersantai baginya karena dia selalu belajar dan belajar.
š
Hari yang dinantipun tiba, yaitu pembagian rapot. Semua siswa sangat tak sabar untuk mengetahui capaian prestasi yang telah mereka lewati selama satu semester. Begitupula dengan Dinda, dia sangat tak sabar ingin mengetahui nilai rapotnya. Saat rapot sudah dibagikan dan Dinda langsung melihat nilainya, alangkah Ia terkejut karena nilainya sangat tak memuaskan dan rankingnya menurun. Biasanya Ia selalu menjadi 3 besar di kelasnya tapi kali ini Ia hanya mendapat urutan ke 9. Dinda sangatlah sedih melihat hasilnya.
“Sasaaaaa,” teriak Dinda menghampiri Sasa yang sedang duduk di depan kelasnya.
“Sa, nilai rapotku jelek, Sa! Padahal aku sudah belajar dengan giat, aku selalu belajar dan belajar tapi kenapa kayak gini hasilnya.” Ucap Dinda setengah menangis.
“Din, jangan menangis dulu. Bersyukurlah kamu masih masuk 10 besar, jangan hanya seperti itu kamu menjadi sedih, cobalah perbaiki, jangan disesali. Masih banyak masalah yang lebih berat daripada itu. Nilaimu masih bisa diperbaiki di semester berikutnya. Lagian nilaimu masih di atas KKM semua.” Ucap Sasa menasihati Dinda.
“Tapi Sa, kamu tuh ngak ngerti! Itu penting banget buat aku Sa! Nilaiku jelek, sedih banget rasanya. Padahl udah belajar mati matian tapi kenapa hasilnya gini?”
“Coba kamu intropeksi diri, apa yang kurang? Atau kamu belajarnya Cuma asal baca, sambil main – main atau gimana?”
“Nggak kok, aku serius belajarnya sampai – sampai kurang waktu istirahat”
“Nggak baik juga kalau kamu kurang istirahat, atau mungkin kamu terlalu capek sehimgga ketika hari-H, kamu lupa apa aja yang kamu pelajarin?”
“Nggak juga, aku pasti inget kalau udah belajar, nggak kecapean juga”
“Hmmm apa ya?” Sasa berfikir apa yang salah dengan Dinda. Ia sudah sangat giat belajar, tidak kurang istirahat, mengerjakan UKK dengan sungguh – sungguh, mengumpulkan semua tugas, dan apa lagi? Semuanya sudah kecuali satu hal.
“Hmm, apakah kamu berdoa kepada Allah? Meminta kemudahan dalam mengerjakan segala hal?” Tanya Sasa perlahan
“Hmm, nggak juga. Aku hanya terkadang saja berdoa kepada Allah saat aku merasa susah” jawab Dinda sedikit malu.
“Itu mungkin penyebabnya. Ingat Din, doa bukanlah ban serep yang dapat kau keluarkan ketika susah, melainkan kemudi yang menuntunmu ke arah yang lurus. Kamu nggak boleh berdoa saat membutuhkan atau saat susah, kamu harus berdoa setiap hari memohon kepadanya, memohon ampun dan segalanya. Dia yang menciptakan kita, ingat itu Din.” Nasihat Sasa panjang lebar kepada Dinda yang membuat Dinda tersadar atas kesalahannya.
“iya Sa, belakangan ini aku cuma berdoa saat aku mengalami kesulitan, saat aku butuh, tapi selain itu aku lupa untuk berdoa kepada Allah. Aku berjanji akan mengubah segalanya, yang lalu biarlah untuk pelajaran dan jangan disesali tetapi untuk pelajaran agar kita tak mengulanginya lagi. Terimakasih Sa kamu telah menyadarkanku, memberiku masukan. Kamu memang sahabat terbaikku.” Setelah itu, mereka berdua pulang ke rumah masing – masing.
Sore harinya, Sasa dating ke rumah Dinda dan mengajaknya pergi keluar.
“Udah, ayo ikut aku, Din. Kamu nggak akan nyesel deh” ajak Sasa kepada Dinda
“Mau kemana sih Sa? Tiba – tiba muncul di rumahku tanpa aku tahu”
“Udah cepetan ganti baju, abis itu kita berangkat. Jangan lupa periksa sepedamu jangan sampai bermasalah ya.”
Tanpa pikir panjang, Dinda langsung ganti baju dan mengambil sepedanya kemudian keluar ke halaman dan di sana sudah ada Sasa yang siap untuk berangkat.
“Sudah siap? Ayo berangkat. Jangan lupa baca basmalah.” Ucap Sasa
Setelah itu, mereka berdua menikmati indahnya sore itu. Sekitar 20 menit, mereka sampai juga di tempat yang dimaksud oleh Sasa.
“Ooo… jadi kamu mau ngajak aku ke taman ini yang waktu itu kita pernah lewat sini saat pulang sekolah.”
“Iya, Din. Aku ngajak kamu ke sini biar kamu nggak sedih lagi, aku nggak mau sahabatku sedih.” Ucap Sasa
“Makasih Sa, kamu memang sahabat terbaikku, selalu ada untukku saat suka maupun duka, selalu menemani walau saat semua orang menjauhiku. Sekali lagi terimakasih, Sa”
“Udah deh nggak usah berlebihan Din. Aku juga senang punya sahabat sepertimu”
Akhirnya mereka menghabiskan langit senja di taman itu, memandangi langit biru yang mulai memerah karena sang surya mulai kembali ke peradaban, digantikan oleh sang bulan yang akan menggantikan posisinya. Saat hari mulai gelap, mereka berdua pulang ke rumah dan menghabiskan sisa hari mereka untuk beristirahat.
Hari – hari berikutnya mereka isi dengan kegiatan – kegiatan yang positif dan bermanfaat. Dinda lebih rajin sholat dan selalu berdoa kepada Allah setiap hari, bukan hanya saat ada masalah atau kesusahan saja. Mereka berdua juga semakin rajin belajar karena sudah mendekati UN.
Tak terasa semester satu di kelas 9 telah berakhir dan saatnya menerima rapot. Dinda sangat takut untuk melihat nilai rapotnya. Ia takut jika nilai rapotnya jelek, perlahan – lahan Ia membuka rapot yang ada di tangannya, dan saat Ia melihat hasilnya, Ia mengucap syukur kepada Allah karena nilainya meningkat dan rankingnyapun juga ikut membaik, Ia menjadi ranking 5. Walau belum masuk tiga besar lagi, Ia tetap bersyukur karena Ia yakin dengan bersyukur, Allah akan menambah nikmatnya.
“Sasaaa, lihat rapotku! Alhamdulillah nilaiku membaik dan rankingku juga, Sa” ucap Dinda dengan senang.
“Alhamdulillah kalalu begitu. Jangan pernah menyerah dan tingkatkan prestasimu.”
“Bagaimana dengan nilai rapotmu, Sa?”
“Alhamdulillah nilaiku juga meningkat walau belum menjadi bintang kelas”
“Tak apa, yang penting nilainya memuaskan dan tidak ada nilai di bawah KKM”
“Iya, Din. Oh iya, liburan kali ini mau nggak kamu ikut aku berlibur ke rumah nenekku di Jogja?” ajak Sasa kepada Dinda
“Wah sepertinya asik, tapi aku izin orang tuaku dulu.”
“Tapi aku yakin pasti orang tuamu mengizinkan.” Ucap Sasa dengan percaya diri.
Benar apa yang diucapkan oleh Sasa, Dinda diperbolehkan untuk ikut berlibur di Jogja bersama Sasa.
Saat di Jogja, mereka selalu mengunjungi tempat- tempat yang berbeda setap harinya. Mereka berkunjung ke Malioboro, keraton, Pantai Parangtritis, bukit bintang, Pantai Baron, Pantai Indrayanti, Pantai Kukup, tempat pembuatan batik, daerah Kasongan, Candi Prmbanan, Borobudur, Monumen Jogja Kembali, dan masih banyak lagi tempat yang mereka kunjungi hingga akhirnya liburan hampir usai yang memaksa mereka harus mengakhiri liburan dan kembali ke kesibukan mereka lagi.
š
Semester dua kelas 9 ini, Dinda semakin rajin belajar dan berdoa. Hampir tidak ada waktu kosong baginya. Banyak tugas, ulangan harian, try out, dan bimbingan belajar. Semua Ia lakukan agar mendapat hasil yang memuaskan di akhir menjalani masa SMP ini. Saat – saat beratnyapun tiba, Ia harus menhadapi UN selama 4 hari dan menunggu hasilnya dengan sabar. Saat penantian hasil UN, Dinda selalu berdoa kepada Allah agar mendapat nilai yang memuaskan atas hasil kerja kerasnya dalam mepersiapkan UN dan melaksanakannya. Akhirnya, pengumuman kelulusan tiba, siswa SMP Tunas Melati lulus 100%
Sangat menyenangkan bagi Dinda dan Sasa dapat berjuang bersama, lulus bersama, dan mendapat nilai yang sangat memuaskan, dan ditambah dengan mereka diterima di SMA favorit di Kota bandung. Sunggung nikmat yang luar biasa banyak dari Allah yang diberikan kepada mereka.
“Dinda, selamat ya kamu bias lulus dengan hasil yang memuaskan dan keterima di sekolah yang kamu inginkan” ucap mama sambil mengecup dahi Dinda dengan penuh kasih sayang.
“Iya Ma makasih juga ya udah dukung Dinda sampe bisa kayak gini. Dinda sayang mama” jawab Dinda sambil memeluk mamanya
“Ngomong – ngomong Dinda mau hadiah apa nih buat keberhasilannya Dinda?”
“Nggak Ma, Dinda nggak minta apa – apa. Cuma pengen Mama doain Dinda aja, karena Dinda bisa kayak gini pasti karena doa Mama juga didengar sama Allah. Mama doain Dinda ya biar bisa lebih sukses untuk kedepannya. Dinda sayang Mama” sekali lagi Dinda memeluk mamanya dengan lebih erat.
š
Sore hari di rumah Dinda setelah pengumuman hasil kelulusan,
“Din, ingat ya jangan pernah menyepelekan Allah, jangan sampai lupa meminta kepadanya karena hanya dialah tempat meminta dan tempat memohon ampun. Tetapi jangan lupa juga berusaha karena jika hanya meminta tanpa usaha, sama aja bohong”
“Iya, siap Sasa. Aku bakal selalu berusaha menjadi yang terbaik dan tak lupa juga untuk berdoa kepada-Nya.”
“Dinda, kita masih tetap bersahabat kan?”
“iyalah, Sa. Kita masih tetap bersahabat sampai kapanpun, sampai Allah memisahkan kita.”
“Sip, Din.” Ucap Sasa sambil menegedipkan satu matanya.
Hari itu mereka habiskan bersama. Mereka pergi ke taman itu lagi untuk menikmati indahnya hari itu hingga malam menjemput.
0 Komentar untuk "Ketika Doa Menjadi Kado Terindah"

Back To Top