Sesal

( Oleh : Hilmi Nur Fauzi )
Andai saat itu aku tidak melakukannya, mungkin hal ini tidak akan sejauh ini. Ya, saat itu aku melakukan kesalahan yang amat fatal. Yang membuat semuanya menjadi hilang dan lenyap dalam hidupku. Dan aku tidak dapat menyalahkan siapa - siapa. Hanya aku sendiri.
Hari itu, aku sedang berjalan - jalan di sawah desa pinggir kota yang keadaannya masih baru ditanam. Aku sengaja mengambil akhir pekanku untuk menyegarkan pikiranku karena pekerjaanku yang sangat membuatku stress.
Saat aku sedang berjalan menuju ke mobil, tiba - tiba aku melihat ada seorang anak yang sedang duduk di sebuah gubug dipinggir sawah. Tapi ada yang aneh dengannya, dia terlihat pucat dan duduk dengan tatapan kosong.
Selain itu dia juga tampak sangat ketakutan seperti orang yang memiliki trauma akut. Kucoba untuk mendekatinya, tetapi baru beberapa langkah ia berteriak dan langsung pergi menjauh dariku. Hal ini membuatku bingung apakah aku memiliki kesalahan padanya atau aku menyeramkan baginya?
Keesokan harinya dikantor, aku bekerja seperti biasanya dan tidak melakukan kebiasaan yang aneh. Tetapi aku merasa teman - temanku menjadi aneh kepadaku. Berkali - kali mereka menanyakan apakah aku baik - baik saja atau tidak.
“Hei, kemana aja kamu kok gak keliling - keliling kantor”
“Gak ada kerjaan nih, gak tau biasanya aku disuruh ini itu kok hari ini aku dibiarin nganggur aja”
Saat sahabatku, Ardi menghampiri dan menanyakanku. Muncul dikepalaku apakah aku akan diPHK sama seperti lima pegawai yang kemarin? Tapi apa kesalahanku sehingga membuatku diPHK? Berkali kali aku mencoba untuk memikirkan kesalahan yang kuperbuat tetapi tidak muncul sama sekali dikepalaku apa kesalahanku. Yang hanya bisa kulakukan saat ini adalah hanya berdoa.
Saat jam sudah menunjukkan untuk pulang, tidak ada tanda - tanda aku akan dipanggil oleh Pak Kepala. Tetapi perasaan cemas terus menggangguku. Akhirnya aku putuskan untuk langsung pergi menuju mobil dan pulang kerumah. 
 
 Saat aku sudah sampai di pintu mobil tiba - tiba Pak Satpam memanggilku. Katanya aku dipanggil Pak Kepala dan diminta untuk menemuinya sekarang. Saat itu pikiranku langsung kacau dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat aku berada didepannya nanti.
“Kamu yang namanya Egar?”
“I..iya pak”
“Kamu tahu kenapa saya memanggilmu kesini?”
“Tidak pak, memangnya ada apa pak?”
“Akhir - akhir ini saya melihat hasil pekerjaanmu makin menurun, jadi saya memanggilmu kesini dan memberi penawaran untukmu”
“Penawaran apa pak?”
“Jika kamu dalam satu bulan ini hasil kerjamu meningkat dan lebih baik dari teman-temanmu, kamu akan tetap bekerja disini dan akan mendapatkan promosi naik pangkat. Tetapi jika tidak ada perubahan dan menurun, kamu bisa meninggalkan perusahaan ini”
“Berarti saya berada dalam tahap percobaan?”
“Ya, saya berharap kamu bisa melakukannya”
“Baik pak, saya usahakan”
Saat mengetahui hal tersebut, pikiranku benar - benar kacau. Tidak tau harus berbuat apa agar aku bisa menghadapi ini semua. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah dan menenangkan pikiranku agar aku bisa lebih tenang untuk menghadapi masalah ini.
Saat berada dijalan, aku berpikir untuk datang kerumah Ardi dan menceritakan ini semua. Mungkin hal ini dapat membuatku semangat untuk mengatasi ini semua. Akhirnya aku mengubah arah mobilku dan dengan cepat menuju rumah Ardi.
Tetapi, saat aku berada dirumahnya ternyata dia telah pindah beberapa hari yang lalu. Aku tidak mengerti kenapa dia tidak menceritakan bahwa dia telah pindah dari rumahnya. Mungkin dia lupa untuk menceritakannya kepadaku. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
Keesokan harinya, aku mulai mengerjakan tugas - tugas dengan baik dan teliti agar hasil pekerjaanku bisa lebih baik. Saat ini aku hanya bisa berharap agar aku bisa lebih baik dari kemarin. Tapi hari ini aku tidak melihat Ardi sama sekali.
Biasanya dia berkeliaran dan terkadang menghampiriku. Apakah mungkin ia juga dipanggil oleh Pak Kepala? Tapi rasanya aneh, walaupun Ardi orangnya santai tetapi ia dapat menyelesaikan tugas dengan baik. Akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya setelah menyerahkan pekerjaanku kepada sekertaris.
Saat berada di ruangannya ternyata dia tidak ada, aku tanyakan ke teman seruangannya katanya ia tidak datang untuk bekerja hari ini. Aku coba tanyakan apakah dimana rumahnya yang sekarang, tetapi ia tidak mengetahuinya. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan pekerjaanku karena masih banyak tugas yang harus dikerjakan.
Jam sudah menunjukkan untuk pulang. Aku berpikir untuk pergi kerumah Ardi dan aku mencoba untuk menanyakan Pak Satpam. Beruntung, ia mengetahui dimana letak rumahnya dan aku bergegas menuju kesana.
Didepan rumah barunya, kulihat rumahnya seperti tak berpenghuni. Ku coba untuk mengetuk pintu dan berharap dia datang untuk membukanya. Sudah berkali - kali kuketuk tetapi tidak ada respon darinya. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan aku berpikir mungkin ia sedang tidur karena sakit atau sedang keluar kota.
Saat sedang dijalan aku berpikir untuk makan malam direstoran karena aku sudah lama tidak makan diluar. Aku mencari restoran yang harganya sesuai dengan isi dompetku, apalagi akibat masalah ini isi dompetku makin sedikit.
Akhirnya akupun menemukan sebuah restoran yang menurutku makanannya enak dan sesuai dengan isi dompetku. Aku memesan beberapa makanan dan minuman, tetapi kasir yang melayaniku seperti orang yang pernah aku temui.
Tetapi aku tidak ingat kapan dan dimana aku bertemu dengannya. Akhirnya aku meninggalkan dan mungkin kebetulan saja ia mirip seseorang.
“Egar?”
“Iya?”
Aku menoleh kebelakang dan ternyata benar prediksiku, ternyata ia teman satu SMA ku. Walaupun kami tidak begitu dekat kami saling mengenal dan terkadang kami mengerjakan beberapa tugas bersama.
“Kamu masih ketemu sama beberapa teman SMA kita enggak?”
“Hanya Ardi, dia satu kantor denganku. Tapi yang lain entah kemana enggak ada kabar”
“Hah? Ardi? Serius kamu sekantor dengannya?”
“Iya, emangnya kenapa?”
“Dia dulu pernah sengaja masukkin contekan ke tempat pensilnya Bayu saat Ujian, terus dia lapor ke pengawas dan akhirnya Bayu dikeluarin dari kelas dan disuruh untuk ikut susulan yang tau sendirikan? Bagaimana susahnya soal susulan?”
“Hah?”
“Dan dia bisa masuk ke Universitas gara - gara saat tes dia sengaja numpahin serbuk pensil ke lembar jawaban Yudi”
“Benarkah?”
Karena aku tidak mau mendengar kelanjutan cerita dari Asmi, aku langsung pergi tanpa pamit karena aku juga kaget bahwa Ardi adalah orang yang seperti itu. Bagaimana bisa seorang Ardi yang kukenal sangat baik dan ramah pernah melakukan hal semacam ini.
Sempat terpikir dibenakku apakah aku bisa masuk dalam tahap percobaan karena Ardi melakukan hal yang sama pada Yudi. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan beristirahat agar pikiranku dapat lebih tenang.
Keesokannya, aku berencana untuk menyelesaikan beberapa tugas yang hampir selesai kemarin. Sambil menunggu tugasku diprint, aku meninggalkannya untuk membeli teh hangat untuk menenangkan pikiran. Aku menuju kantin dan aku sengaja melewati ruangan Ardi untuk berkunjung. Saat kutengok dalam ruangannya, ternyata dia sedang keluar. Akhirnya aku langsung menuju kantin dan membeli teh hangat dan beberapa camilan untuk kumakan saat bekerja.
Saat aku kembali, dalam mataku sendiri aku melihat Ardi seperti sedang menukar pekerjaanku yang tadi aku print. Dengan emosi aku menghampirinya dan langsung kutarik dia dari meja kerjaku.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Aku sedang,..”
“Pergi dari sini!!”
Aku hampir tidak percaya dengan apa yang Ardi lakukan tadi. Aku tidak dapat menahan emosiku karena ternyata benar perkataan Asmi semalam tentangnya. Ternyata orang yang membuatku masuk dalam masa percobaan adalah sahabatku sendiri. Entah mengapa dia melakukan hal kotor semacam ini.
Keesokan harinya, aku memfotocopy laporanku. Tetapi, saat aku menuju kemesin fotocopy ternyata disana ada Ardi yang sedang fotocopy juga. Saat aku melihatnya aku berusaha menghindar dan beruntung, ternyata dia telah selesai. Setelah dia sedikit jauh, aku langsung menuju mesin dan memfotokopi laporanku.
“Sial, habis dia apakan ini mesin?”
Tidak kusangka ternyata mesin fotocopynya rusak. Dan sialnya lagi kantorku hanya memiliki satu mesin fotocopy dan kantor tidak mengizinkan untuk print pekerjaan yang sama. Dengan terpaksa akhirnya aku fotocopy di luar kantor yang letaknya sangat jauh bila dijangkau dengan jalan kaki.
Saat berjalan menuju tempat fotocopy aku berpikir apakah Ardi sengaja merusak mesin fotocopy itu karena tadi aku melihat dia sedang membuka isi mesin fotocopy. Entahlah, tetapi mungkin memang sengaja dia melakukannya. Dia saja rela membuat temannya sendiri hampir tidak naik kelas dan tidak diterima di Universitas.
Malam ini aku jalan - jalan kesebual mall untuk menyegarkan kepalaku. Aku berencana untuk membeli beberapa sayuran dan buah-buahan. Terpikir dibenakku bagaimana jika aku melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan padaku. Menjatuhkannya agar posisiku dan dia sama sehingga jika aku terjatuh ia juga ikut terjatuh sehingga adil bagiku.
Akhirnya akupun pulang dengan beberapa rencana yang sudah kupikirkan dijalan. Mencegahnya untuk melakukan hal licik kepadaku dan membiarkannya untuk menerima sebuah pukulan agar dia merasakan bagaimana rasanya jika dia diperlakukan sama sepertiku.
Keesokan harinya aku secara diam - diam masuk kedalam ruangan Ardi. Aku memeriksa apakah aman atau tidak. Setelah kuperiksa dengan baik akhirnya aku menyalakan komputernya dan membuka laporan yang ia buat. Ku ubah semua data yang ada dan menggantinya dengan data palsu.
 Setelah itu kusimpan dan kutinggalkan ruangannya serta memeriksa apakah ada jejak yang kutinggalkan. Saat sudah berada didekat ruanganku aku bertemu dengan Ardi. Tapi aku berusaha untuk mengalihkan pandanganku karena aku sudah tidak bisa menerimanya sebagai teman. Aku berusaha agar aku tidak akrab dengannya.
Jam sudah menunjukkan untuk pulang. Aku berkemas dan segera menuju basement untuk mengambil mobilku. Saat berjalan menuju basement, sempat terpikir untuk merusak motor Ardi. Aku melihat tidak ada orang di basement dan akhirnya aku mengambil kunci mobil dan menggoreskannya ke jok motornya sehingga menjadi sobek. Dengan cepat aku langsung pergi dari basement dan menuju rumah.
Pagi ini, aku mengumpulkan laporan dan beberapa tugasku ke sekertaris yang kantornya berada dilantai bawah. Biasanya aku melewati lift, tetapi karena sedang rusak akhirnya aku melewati tangga. Saat aku sedang berjalan turun dengan membawa banyak laporan dan tugas tiba - tiba ada seseorang yang menyenggolku dan akupun langsung jatuh kebawah. Aku tidak bisa bangun sehingga aku tertidur lemas di tangga. Aku tidak melihat siapa yang menyenggolku tadi, tetapi kemungkinan besar Ardi karena tadi aku sempat melihat baju yang biasa dipakai Ardi.
Beruntung, tidak lama ada seseorang lewat dan langsung menolongku. Dia membawaku ke ruang P3K. Aku masih yakin bahwa yang menyenggolku tadi adalah Ardi. Entah mungkin aku akan melakukan hal yang sama atau lebih padanya agar ia tahu bagaimana rasanya jika diperlakukan seperti ini.
Saat pulang, aku melihat mobilku tidak bisa dinyalakan. Akhirnya aku jalan menuju halte bus dan menitipkan mobilku kekantor. Saat berada diperempatan lampu merah, aku bertemu Ardi. Tetapi sepertinya ia tidak tahu jika aku sedang dibelakangnya. Karena aku berpikir ingin membalas kelakuannya tadi dikantor, aku menyenggolnya kedepan. Aku tidak mengetahui jika ada motor yang melintas dan akhirnya dia ditabrak oleh motor.
Saat mengetahui hal ini, aku langsung pergi meninggalkannya. Entah apa yang terjadi dan bagaimana keadaannya aku tidak peduli karena aku sudah takut. Di satu sisi aku merasa tidak bersalah karena aku berpikir bahwa ini balasan perbuatan yang dilakukannya padaku. Di sisi lain aku merasa bersalah karena membuat orang lain terluka. Tapi aku berusaha menghilangkan perasaan ini dan melupakan apa yang baru saja kulakukan.
Karena hari ini aku libur, akhirnya aku menuju ke sawah tempat dimana biasa aku menghilangkan stress. Tiba - tiba aku bertemu dengan anak yang pernah kutemui sebelumnya.
“Pe.. Pergi Kamu! Pergi! Kamu bukan orang baik. Tapi kamu monster!”
Kali ini dia melihatku sangat takut. Benar - benar ketakutan seperti ia pernah kusiksa sampai dia hampir mati dan trauma denganku. Aku tidak mengetahui bagaimana dia bisa seperti itu kepadaku. Tapi aku berusaha menghilangkan pikiran negatif tentangku agar aku tidak tambah stress.
Keesokan harinya, orang - orang sibuk membicarakan suatu hal. Aku sedikit mendengar bahwa mereka membicarakan Ardi. Aku bertanya pada Iswah apa yang sedang terjadi. Dia berkata bahwa Ardi kecelakaan dan sekarang dia dalam keadaan tidak sadar dalam rumah sakit. Sebenarnya aku sudah mengetahui bahwa Ardi kecelakaan, tetapi aku hanya berniat untuk mengetahui keadaannya. Beruntung, dia hanya tidak sadarkan diri. Tidak sampai mati.
Pulang kerja aku mencari makan karena aku sedang tidak berniat untuk makan dirumah. Aku memilih makan disalah satu kedai dipinggir jalan. Tak lama ada seseorang menepuk pundakku.
“Hei, kamu kenapa kemarin langsung pergi?”
“Enggak kenapa - kenapa kok”
“Aku baru tahu ternyata siYudi lulusan Universitas yang saat tes dia gagal”
“Hah? Kok Bisa?”
“Iya, ternyata si Ardi gagal masuk tes dari Universitas itu dan Yudi ternyata yang masuk ke Universitas itu”
“Kenapa bisa?”
“Katanya sih, saat ujian dia tidak sengaja menumpahkan ampas rautan pensil ke lembar jawaban Yudi. Akhirnya dia secara diam - diam menukar jawaban dan mengambil jawaban Yudi dan mengganti nama Yudi menjadi namanya”
Mendengar penjelasannya masih membuatku belum terima tentang apa yang ia lakukan padaku. Masih terasa mengganjal dihatiku dan aku masih menganggap dia bahwa dia yang menyebabkan aku dalam posisi yang sekarang ini.
“Terus yang waktu Ujian itu?”
“Katanya sih, buat seseorang gitu”
“Apa?”
“Iya, karena katanya dia ingin membuat nilai seseorang lebih tinggi dari Bayu. Jadi dia melakukan hal seperti itu. Entah apa yang membuatnya berkorban seperti itu”
“Terus kenapa dia mau melakukan hal bodoh semacam itu?”
“Tidak tahu. Mungkin seseorang itu spesial baginya”
Saat itulah aku langsung pergi karena benar - benar membuatku kesal. Aku baru tahu yang membuatku menjadi ranking 1 saat SMA ternyata dia orangnya. Aku bisa menyimpulkan seperti itu karena aku pernah bergurau dengannya jika aku ingin menjadi yang terbaik dikelas. Ternyata hal itu benar - benar dilakukannya.
Pernyataannya benar - benar membuatku menjadi seseorang yang hina dihadapannya. Seakan - akan aku bukanlah manusia tetapi lebih rendah bahkan jauh lebih rendah daripada hewan. Aku mungkin hanya bisa hidup dengan baik seperti sekarang ini apabila aku dibantu olehnya.
Keesokannya saat aku turun dari mobil tiba - tiba aku ditarik oleh seseorang. Ternyata dia adalah Ferdi. Dia membawaku ke tangga darurat.
“Aku sudah mulai muak dengan kelakuanmu itu!”
“Apa maksudmu?”
“Kau kan yang membuat Ardi seperti ini? Aku tahu kau saat merusak jok motor Ardi. Dan pasti kau yang membuat Ardi tak sadarkan diri di rumah sakit”
“Bagaimana kau bisa menyimpulkan bahwa aku pelakunya?”
“Saat aku memeriksa CCTV, aku melihatmu menggoreskan kunci mobil ke jok motor Ardi. Ia sudah kuberitahu tentang hal ini, tetapi beruntunglah kau karena dia tidak memberikan respon apa - apa”
Akupun pergi meninggalkannya. Entah sejak Ardi kecelakaan karenaku semuanya berubah seperti dunia menghukumku. Apa kesalahanku? Aku hanya ingin menunjukkan padanya bagaimana seorang teman baiknya diperlakukan seperti ini. Apakah aku salah sangka terhadapnya? Tapi aku benar - benar melihat dengan mata kepalaku sendiri. Akhirnya aku berusaha untuk tenang dan melupakan segala hal yang terjadi.
Jam sudah menunjukkan untuk makan siang. Saat dikantin kantorku, Alex rekan satu kantor Ardi datang menghampiriku sambil membawa makan siangnya. Tampaknya ia ingin makan siang bersamaku.
“Gak biasanya kamu mau makan siang sama aku”
“Aku baru tahu penyebab Ardi pindah dari rumah lamanya”
“Memangnya kenapa?”
“Ibunya baru saja meninggal dan perusahaan mendiang ayahnya yang ia kelola sedang krisis. Entah bagaimana selanjutnya jika keadaanya seperti ini”
Mendengar cerita Alex aku hanya bisa terdiam dan tak berbuat apa - apa. Aku hanya bisa mendengar obrolan dari Alex dan mengiyakan perkataannya saat ia meminta pendapatku. Dan aku langsung pergi.
Saat pulang kerja, tiba - tiba aku dipanggil oleh Pak Kepala. Tapi sekarang aku tidak khawatir apakah aku akan diPHK atau tidak. Yang kukhawatirkan adalah perbuatanku apakah yang kulakukan benar atau salah. Aku masih bingung tentang fakta - fakta yang baru saja diungkapkan oleh beberapa temanku.
“Waktu kamu kurang sepuluh hari lagi! Tapi hasil kerjamu tetap saja seperti itu”
“Maaf pak, saya sudah berusaha dengan maksimal”
“Kau beruntung memiliki teman yang selalu membantumu. Jika tidak ada dia kemungkinan kau sudah keluar dari kantor ini sejak kemarin”
“Hah? Memangnya kenapa pak?”
“Aku melihat dia yang membantumu membenarkan data laporan yang kau kerjakan. Tapi saat aku menegurnya, dia memohon agar tetap diam dan membiarkan kamu untuk tetap bekerja di perusahaan ini. Dia membiarkan dirinya untuk tetap pada posisinya yang sekarang agar kamu tetap berada diperusahaan”
Aku baru mengetahui bahwa saat dia membuka laporanku, ternyata dia sedang memeriksa pekerjaanku. Entah mengapa dia membantuku sampai sejauh ini. Dan membiarkan dirinya sengsara.
Saat aku sedang menuju basement untuk mengambil mobil, aku melihat Deni sedang menunggu didekat mobil. Karena aku ingin cepat pulang untuk menenangkan pikiran, aku langsung menuju mobil tanpa menghiraukannya.
Tiba - tiba dia memegang pundakku dan berkata bahwa dialah yang menyenggolku saat aku berada ditangga. Dia tidak sempat untuk menolongku karena sudah ditunggu oleh client. Dia meminta maaf dan langsung pergi dariku.
Karena aku tidak tahu harus berbuat apa karena ternyata aku yang sangat bersalah, akhirnya aku langsung menjenguk Ardi dirumah sakit karena katanya juga dia sudah dalam kondisi kritis.
“Di, kenapa kamu melakukan semua hal gila ini? Maafkan aku karena aku tidak tahu segalanya. Maafkan aku karena membalas jasa - jasamu dengan hal yang menyakitimu. Kumohon maafkan aku. Meskipun aku harus merelakan nyawaku agar kau tetap hidup bagiku tidak masalah. Asalkan kau memaafkanku. Kumohon”
Aku menangis malam itu juga. Aku tahu aku sangat bersalah karena telah melakukan hal ini. Entah mengapa saat itu aku tidak bisa berfikir positif dan berburuk sangka padanya. Jika aku tahu kalau dia yang selama ini membantuku untuk hidup seperti sekarang ini, mungkin tidak akan terjadi hal bodoh semacam ini. Tiba - tiba, aku melihat tangannya bergerak.
“A.. a.. ku,.. ya.. ang.. ha.. rus.. nya... min... ta... ma.. af..”
“Ardi? Kau sudah sadar?”
“Te.. ri.. ma.. ka.. sih.. su.. dah.. men.. ja.. di.. te.. man.. ku..”
Akhirnya aku mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan yang kulakukan. Aku diPHK dari perusahaan tempat aku bekerja dahulu. Dan aku sekarang menjadi seorang kasir dengan gaji yang tak seberapa. Seharusnya aku bersyukur karena mungkin tuhan masih memaafkan perbuatanku. Karena sampai saat ini, aku masih bisa hidup, bernafas, dan merasakan nikmatnya dunia.
Aku merasa hidup Ardi sangatlah tidak adil. Dia tidak salah tetapi dia tersiksa dan rela berkorban hanya untuk seorang teman. Teman yang menusuk dari belakang, dan membuatnya pergi untuk selama - lamanya. Dan benar tentang pandangan anak yang berada disawah itu. Aku adalah seburuk - buruknya monster dan mungkin lebih buruk dari itu.
 Tamat.


0 Komentar untuk "Sesal"

Back To Top