CITA-CITA, CINTA, DAN PERSAHABATAN



Karya : Riska Shellia

Tahun terakhirku ketika di bangku SMP berisikan 3 kata berikut, CITA-CITA, CINTA, dan PERSAHABATAN. Keinginan, harapan, impian, atau tujuan yang selalu ada dalam pikiran, itu adalah CITA-CITA. Sesuatu yang murni, putih, tulus dan suci yang timbul tanpa adanya paksaan atau adanya sesuatu yang dibuat buat, itu adalah CINTA. Sahabat sejati tidak meminta imbalan apapun. Ketika kita meminta bantuan darinya, dia segera menolong dengan rela. Ketika kita sedang susah, dia segera membantu. Dan ketika kita memberikan semua kerelaan hati padanya, dia segera menyambutnya dengan baik dan menghargainya. Itulah PERSAHABATAN. 
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      
Ceritaku cukup sederhana, namun terkandung makna yang luar biasa. Aku gadis berusia 15 tahun yang duduk di bangku kelas 3 SMP. Dan ini kisahku.
Sama seperti yang lainnya, aku memiliki cita-cita, memiliki hati untuk menyambut cinta dan memiliki teman sejati dalam persahabatan.
Aku selalu ditanya mengenai cita-cita. Dan jawabku pun sama, “Aku ingin pergi haji.” Saat itu aku masih kecil dan belum mengerti apa itu cita-cita. Bertambahnya tahun, aku pun tahu apa itu cita-cita. Sesuatu yang ingin kita capai yang disertai dengan perencanaan dan tindakan kita untuk mencapainya. Dan aku pun melakukannya. Saat ada yang bertanya mengenai cita-cita, aku pun sudah sangat siap untuk menjawabnya. Dan akan tertanamkan dalam hati, “Aku ingin menjadi seorang Dokter” ucapku dalam hati.
Tak mudah mencapai sebuah cita-cita, butuh perjuangan dan kerja keras yang luar biasa. Aku merasakannya sendiri. Sebagai pelajar, wajib hukumnya menuntut ilmu. Berusaha keras aku belajar, apa lagi kini aku kelas 3 SMP, sebentar lagi Ujian Nasional. Saat yang sangat kami takut kan.
“Saat ini kamu kelas 3 SMP Shei , waktu bergulir begitu cepat, tak terasa sebentar lagi kamu Ujian Nasional” ujar papaku dengan kalem. Mendengar kata itu bagai petir yang membeledak dalam fikiranku.
Aku berusaha dengan sangat keras. Mengikuti berbagai bimbingan belajar seperti di Ganesa Operatian, privat matematika dan B. Inggris, belum lagi bimbel di sekolah. Sibuk sekali aku, seperti artis yang kebanjiran job kerja.
“Ya Tuhaan ... padat sekali jadwal ini. Apa aku bisa?“ kata ku dengan hati yang tak yakin. “Kamu pasti bisa“ jawab Syakila sambil menenangkan. Syakila adalah sahabatku. Sejak kecil kami berdua bersahabat. “Setiap hari ada les, bimbel. Hari jum’at dan selasa kita hampir seharian di luar rumah, bahkan lebih. Pagi sekolah, pulang sekolah bimbel, dan sepulang itu kita bimbel lagi di GO dan pulang jam 8 malam. Seperti kepala keluarga saja, yang membanting tulang mencari nafkah.” kata ku. “Ini lah perjuangan untuk cita-cita kita, memang harus banting tulang kita belajar. Tidak masalah jika kita menjalaninya dengan ikhlas, nikmati saja. Dan berfikirlah positif untuk cita-citamu” jawab Syakila meyakinkan ku lagi.
Hari ini adalah hari Jum’at. Pada jam istirahat sekolah mama ku telfon. Bahwa supirku tidak bisa mengantarku dan Syakila sahabatku ke GO. “Shei hari ini kamu dan Syakila berangkat bimbel sendiri dulu ya, Mang Amot tidak bisa mengantarmu hari ini. Dia sedang sakit” suara mamaku yang lembut itu. Terpaksa kita harus naik angkot.
“La, mamaku telfon, katanya supirku tidak bisa mengantar kita ke tempat les hari ini. Jadi kita harus naik angkot“ ujar ku dengan kerut di sudut mata. “Tak apalah . Tapi kita tidak akan sempat ganti baju.” Jawab Syakila santai. “Ya mau bagaimana lagi, dari pada kita terlambat. Toh dengan berseragam gini kan bayar angkotnya jadi lebih murah, hheeee...” jawabku dengan senyum kecil di bibir. “Oke deh. Pulang bimbel sekolah nanti, aku tunggu di samping ring bakset ya.” “Oke” jawab ku sambil berjalan memasuki kelas.
“Deeeeeeettt deeeeettt” Bel akhir bimbel pun berbunyi.
Selesai berdoa, aku pun bergegas keluar dan menemui sahabat tercinta yang katanya menunggu ku di samping ring basket .
Di kejauhan sana terdapat sosok gadis yang sangat baik, gadis manis dengan tinggi 156cm sedang berdiri sambil bersandar di bawah ring basket. Kami adalah sahabat yang tidak dapat terpisahkan. Kemana-mana kami selalu pergi berdua. Bagai semut dan gula. Dimana ada Syakila, disitu ada aku, dan sebaliknya.
“Hai La!“ sapa ku ceria. “Hai sahabat, yuk berangkat.“ ajaknya. “Eh sebentar, aku ingin membeli snack dulu. Untuk dijalan.“ kataku . “Ya sudah. Jangan lama-lama ya, aku tunggu di depan saja sekalian menunggu angkot lewat.” Syakila menjawab sambil berjalan menuju ke luar gerbang. “oke” jawabku centil.
Dari kejauhan dimana aku dan syakila berdiri, terlihat mobil berwarna biru. “Eh itu angkotnya.“ kataku sambil menunjuk ke arah mobil itu datang. Kita pun melambaikan tangan, tanda bahwa kita ingin naik angkot. Namun laju angkot itu sangat cepat. Ternyata angkot yang satu ini sudah penuh dengan penumpang. “Sudah 5 angkot yang lewat, tapi semuanya penuh. Ini sudah jam 2, kita bisa terlambat nih.” Ujarku  dengan wajah lesu dan cemas. Saat itu cuaca sedang tidak bersahabat. Raja siang tertutup oleh awan hitam. Angin terus berlari dan tak ada hentinya menghantam tubuh kami. “Ia nih, cuacanya juga tidak baik. Sepertinya akan turun  hujan.” Jawab Syakila dengan tangan menengadah ke atas.

Lemas, capek, lesu, campur aduk perasaan kami. Hatiku sungguh tidak tenang. Jam 14 :15 terlihat mobil berwarna biru. “Itu angkot” kataku sambil menuju ke arah angkot itu melaju. “Semoga saja angkot itu tidak penuh seperti yang sudah-sudah” kata Syakila dengan hati berharap. Keberuntungan pun berpihak pada kami.Ketika harapan kami hampir habis karena cuaca semakin mendung mobil berwarna biru itu pun datang dan masih kosong belum terisi penumpang. Kami dengan sigap langsung menaiki mobil tersebut. Akhrinya kami bisa berangkat ke tempat bimbel.
Selama di perjalan, hujan turun sangat deras. Kecemasan kami pun semakin menjadi-jadi. “ Bagaimana ini, hujannya deras sekali dan kita mesti naik angkot satu kali lagi.” Kata Syakila dengan kerut cemas di wajahnya. “Terpaksa kita harus hujan-hujanan La. Habis mau bagaimana lagi, sudah terlanjur di jalan juga kan ? Nikmati saja.” Jawabku berusaha tenang.
Tibanya di perempatan, kami pun turun. Saat itu hujan masih turun dengan sangat deras. Terpaksa kami menerobos kroyokan hujan yang turun tak tiada henti. Sialnya tak ada satupun angkot yang lewat. Basah bukan main pakaian kami karena hujan . Angin yang kecang, hujan lebat, kami berjalan menyusuri jalan yang cukup jauh untuk sampai ke tempat bimbel. “Kita sudah seperti gembel, hujan-hujanan menyusuri jalan yang basah. Tak ada sedikit pun bagian baju yang kering, semua basah terguyur hujan. Kita bisa sakit” kata ku dengan suara gemetar kedinginan. “Ia, aku sudah kedinginan” jawab Syakila dengan suara gemetar juga. Kami hampir memutuskan untuk berhenti berjalan dan berteduh, kami berfikir untuk tidak bimbel hari itu, karena kondisi yang tak mungkin membuat kami untuk terus berjalan menerjang kroyokan hujan. Namun Tuhan sayang, dan ingin kami belajar. Terlihat mobil berwarna biru mendekati kami dan berhenti. “Angkot neng” tanya abang angkot. Dengan spontan kami menjawab bersama “Yes bang” . Kami segera naik angkot. Selama di jalan kami gemetar kedinginan, tak mampu aku menahan  dingin yang menusuk tulang rusuk. Kami mengusap dan menggesekkan kedua telapak tangan untuk menghangatkan tubuh kami. Kami sampai dan dapat belajar walau dengan pakaian yang basah dan kedinginan, itu tidak masalah bagi kami.
Perjuangan untuk cita-cita itu tidak mudah kawan . Apalagi ketika usia ABG yang sedikit demi sedikit mulai mengenal laki-laki. Berjalannya waktu dan aku tengah giat belajar, rasa simpatik ku datang bagai ombak yang mendekati pantai tanpa ku minta.
Seorang pria yang tampan dan juga pandai, lesung pipit pada pipi nya, selalu membuat ku tak bosan melihat senyum manis di wajahnya. Kata demi kata yang terlontar dari bibirnya, membuatku percaya dan menaruh harapan padanya. Kedekatanku dengannya mulai menyita waktu belajar ku. Satu dua jam awalnya, hingga satu dua hari waktu belajarku yang tersita, bahkan lebih. Bahkan pada saat ujian semester ganjil pun kami masih berkomunikasi, waktu yang seharus nya aku gunakan untuk belajar. Selesai ujian, dia mengajakku jalan. Kami sering pergi bersama. Aku tak sadar bahwa apa yang aku lakukan adalah kelalaian yang membuat nilai-nilaiku menurun . Kaget bukan main hati ku ketika aku tahu bahwa peringkatku turun. Temanku Beni yang mendapat peringkat satu di kelas. Dan aku semakin tidak rela ketika tahu bahwa Beni bermain curang ketika ujian. Dia sudah mendapa soal ujian dari tempat bimbelnya. Hancur bukan main hatiku. “Mama papa pasti marah padaku ketika mendengar bahwa peringkat dan nilai-nilaiku turun. Kenapa aku bisa selalai ini! Berapa banyak waktu yang terbuang untuk bermain dan bersenang-senang? Ya Tuhan , maafkan aku karna sudah ingkar pada janjiku.” Kata ku dengan hujan yang turun melintasi pipi. “ Sahabatku, maafkan aku yang tak mampu berbuat apa-apa ini. Aku hanya mampu mengusap air matamu dengan tangan ku. Dan memberikan pundakku ketika kamu membutuhkan tempat untuk bersandar. Ingatlah cantik, bahwa hidup penuh dengan liku. Dan belajarlah untuk bisa mendengarkan perkataan orang yang sayang padamu. Kini kamu bisa belajar dari pengalaman buruk ini, jadikan ini sebagai motivasimu. Aku akan selalu ada untukmu, sahabat. Kita akan tuntun jalan sukses berasama.” ucap Syakila dengan memeluk seolah menenangkanku. Ketika aku mulai tenang, dari kejauhan ku melihat seorang pria tinggi, berkulit sawo matang, dengan lesung pipit di pipi yang sedang berduaan dengan seorang wanita. Dekat, bahkan bergandengan tangan sambil tertawa-tawa lepas seolah mesra.  “Itu seperti...  Gibral! Ya itu Gibral. Dan itu ? itu Tita bukan ? Itu Tita ! Mengapa tega ?” Hancur bukan main hatiku hingga remuk berkeping. Orang yang aku harapkan tidak ada di sampingku dan memberiku semangat motivasi, justru menyakitiku dengan teman ku sendiri.”Oh Tuhan, ini kah teguranmu untukku ? inikah salah satu bentuk hukumanmu ?” dengan menjerit sambil menangis. Syakila langsung memelukku dengan erat dan dan berusaha menenagkanku. Tak sadar aku, ketika itu aku pingsan. Sahabatku sangat panik. Syakila langsung membawa ku ke UKS sekolah. Ketika aku sadar dia masih di sampingku . Dia membantuku mengatakan hal buruk ini pada orang tuaku, dia berusaha melindungiku ketika papa marah. Kemarahan papa bagai badai dan petir yang menggelegar kencang . “ Kenapa bisa begini Shei! Akhir-akhir ini kamu banyak sekali bermain ! Mulai hari ini , waktu mainmu papa batasi, dan handphonemu papa sita !” tegas papa ku dengan sangat marah dan kecewa. Lagi-lagi Syakila memeluku dan mambawa ku ke kamar.
Hal ini membuatku jera. Aku mulai menyibukkan diri untuk belajar lagi. Belajar dua kali lebih giat dan rajin dari sebelumnya. Sedikit sekali waktuku bermain, ku gunakan semua waktuku untuk belajar. Tak terasa, hari yang kami takutkan pun datang. “Besok kamu Ujian Nasioal, belajar sungguh-sungguh agar nilaimu bagus !. “ tegas papaku dengan kelembutan yang tersembunyi. “ Jika kamu mempunyai cita-cita, rajinlah belajar agar cita-citamu tercapai. Kami selalu mendoakan mu sayang, agar kamu di beri kemudahan oleh Tuhan. Buat mama papa bangga padamu. Beri kami kejutan dengan prestasimu.”suara lembut mama ku membuka motivasi baru. Aku semakin semangat belajar.
Tak terasa ujian nasional pun berhasil ku tempuh dengan baik. Satu bulan lamanya kami tak ada kegiatan di sekolah. Dan ku isi hari itu bersama keluarga dan sahabat tercinta. Karena lulus nanti, aku akan pergi jauh ke kota Istimewa Yogyakarta. Aku akan berpisah dengan keluarga dan sahabat tercinta. Berat rasanya meninggalkan semua. Teringat ketika acara perpisahan sekolah yang membuat aku tak mampu menahan air mata. Apalagi ketika guru ku menyajikan sebuah vidio yang berjudul “cita-cita, cinta dan persahabatan” . Vidio itu menggambarkan kisah yang aku ceritakan ini. Itu semakin membuatku tak mau pisah dengan sahabat tercinta.
“Aku akan pergi jauh untuk cita-citaku.Namun aku tidak meningglkan mu sahabatku. Waktu kita bersama tak sebanyak dulu. Kamu yang selalu membantuku, kamu yang selalu menolongku, kamu memberikan semua kerelaan hari mu untukku, kamu selalu menyambut cerita-ceritaku dengan baik dan menghargaiku. Tapi mungkin, tak akan ada lagi ketika aku jauh dari mu sahabat.”  Kata ku sambil menagis . “Sheila, sahabat baikku, pergilah kejar cita-citamu dan aku akan mengejar cita-cita ku di tempat yang berbeda. Aku tahu ini sangat berat untuk kita terima, tapi takdir Allah lah yang memisahkan kita. Dan biarlah takdir Allah pula yang menyatukan kita memalui kesuskesan kita. Aku sayang pada mu Sheila” sambil menangis dan memelukku. “Aku juga sayang padamu sahabat” jawab ku dalam dekap pelukannya.
Saat menegangkan tiba. Pengumuman kelulusan dan hasil ujian nasional akan di umumkan sore ini pada pukul 3 nanti. Dag dig dug hati ku saat itu. Ku berdoa agar hasilnya memuaskan dan membuat papa dan mama bangga. Aku terkejut, sangat terkejut. Ketika kepala Sekolahku menyebut nama ku sebagai peraih nilai UN tertinggi se-Kecamatan dan Kabupaten. Dan aku sebagai juara umum di sekolah. Senang luar biasa hati ku. Kesenangan itu membuat air mataku jatuh dan mengalir tiada henti. Ku persembahkan kabar baik ini untuk dua orang tercinta, mama dan papa. Senang sekali aku ketika melihat senyum gembira kedua orang tuaku. Dan benar bahwa dalam meraih kesuksesan butuh proses yang sangat panjang dan kerja keras yang luar biasa . Seperti pepetah yang tak asing lagi kita dengar, “Berakit-rakit dahulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”
0 Komentar untuk "CITA-CITA, CINTA, DAN PERSAHABATAN"

Back To Top