Elang Dirga


Oleh : Aveinia Shafira

Mawar merah itu selalu ku nanti mekarnya. Kalau sudah mekar, indahnya bukan main. Beberapa waktu ini aku tidak pernah melihat mawar itu mekar kembali. Hanya ada daun dan tangkai yang berduri saja yang ku temui di setiap harinya. Itu sangat menyakitkan. Sama seperti hari-hariku, menyakitkan. Aku merasa bahwa di dunia ini tidak ada yang peduli terhadapku. Hanya kanvas, kuas dan cat yang setia ada di sampingku, bersamaku setiap hari.
            Namaku Dirga, aku seorang mahasiswa yang sangat senang menggambar. Apapun yang kulihat dan itu menarik untukku, akan ku lukis. Aku tinggal di Yogyakarta, tempat kelahiranku, suatu tempat yang indah untuk menghabiskan hari-hari bersama orang-orang yang ku sayang. Orang-orang yang ku sayang? Iya, mereka adalah bunda, ayah dan adikku Tasya. Ke mana mereka? Mengapa aku merasa bahwa tidak ada yang peduli kepadaku? Mereka adalah orang-orang yang paling berharga di dunia ini. Aku ingin selalu melindungi mereka, tak ingin ada yang menyakiti mereka. Mereka juga melindungiku, menyemangatiku, merekalah hidupku. Semua berubah setelah kejadian itu terjadi. Kejadian yang sama sekali tidak kami inginkan, kejadian yang memisahkan kami. Ya, kecelakaan itu terjadi setelah kami merayakan kelulusanku setelah 3 tahun di SMA. Kelulusan itu membuat ayah dan bunda bangga karena aku bisa lulus dengan hasil yang memuaskan. Setelah itu, kami sekeluarga merayakan kelulusanku serta diterimanya aku di perguruan tinggi dengan makan makan di sebuah restoran yang ada di Jl.Kaliurang. Selesai makan-makan, kami langsung pulang karena sangat lelah. Tapi tiba-tiba aku teringat bahwa kuasku sudah mulai rusak. Aku  meminta ayah untuk berhenti di sebuah toko alat tulis untuk membeli kuas. Saat akan menyebrang, ayah sudah melihat bahwa sepi, tapi tak lama kemudian, sebuah mobil besar menyambar mobil kami tepat dari arah ayah menyetir. Aku masih ingat kejadian itu, sangat membekas di benakku. Kejadian itu hanya menyelamatkanku. Ayah, bunda dan adikku Tasya tidak bisa diselamatkan.
Aku merasa bersalah. Andai aku tidak meminta ayah untuk berhenti di toko alat tulis, andai saja. Hanya andai saja yang bisa aku ucapkan sekarang. Tidak akan terjadi kecelakaan itu jika aku tidak meminta ayah untuk berhenti di toko alat tulis. Kenapa aku harus selamat? Kenapa hanya aku? Aku tidak bisa melindungi mereka. Aku menyesal, menyalahkan diriku sendiri. Keseharianku hanya dihantui rasa bersalah dan bersalah. Memang semua ini takdir, tapi tetap, aku merasa bersalah kepada mereka. Ingatanku kembali muncul mengenai kejadian beberapa tahun lalu.
“Dorr!” ngelamun aja lu bro.
“Hish, ngagetin aja lu.”
Rasya, dia adalah sahabatku sejak SMA. Hingga kuliah ini, kami masih tetap bersama. Aku menemukan satu orang yang ternyata masih peduli terhadapku. Setelah peristiwa kecelakaan itu, pikiranku kosong. Aku berfikir aku sudah tidak memiliki siapa siapa lagi. Tapi Rasya datang, dan aku teringat bahwa aku masih memiliki sahabat. Pikiranku mulai terbuka sedikit, hanya sedikit karena ingatanku tentang bunda, ayah dan Tasya masih sangat jelas. Sangat jelas aku kehiangan mereka.
“Mau ngapain lu ke sini?” tanyaku
“Oke kalo nggak diijinin ke sini. Bye” balas Rasya
“Eh, kan gue Cuma tanya.”
“Gue ke sini mau ngajakin lu jalan. Gak bosen apa di rumah terus, ngegambar terus. Nungguin mawarnya mekar?” ajak Rasya.
Memang setelah kecelakan itu aku jadi menyendiri, di rumah dan menggambar. Semua yang dimiliki almarhum ayah jadi milikku. Itu tak membuatku bahagia. Hanya mereka kebahagiaanku.
            “Apaan sih lu. Mau ke mana emang?” jawabku sembari menggoreskan kuas di kanvas.
            “Ya ke mana kek. Nonton, jalan, apa ngapain gitu.” Rasya memaksaku.
            “Lu mau kayak gini terus? nggak membuat ayah, bunda lu sama adik lu Tasya balik Dirga. Lu membuat mereka sengsara di sana.” tambah Rasya
Kata-kata Rasya itu selalu ia lontarkan kepadaku. Tapi aku tidak pernah peduli. Aku tak pernah menganggapnya serius.
            “Ya, ya, ya,ya.” jawabku enteng
            Gue serius.” balas Rasya.
            “Ya tauk. Udah berkali-kali lu ngomong gitu bro.”
            “Habisnya lu kagak mau denger gue, mana mungkin sih gue mau biarin lu kayak gini terus. Udahlah ayo pergi.”
            “Hmm.... ke mana?” jawabku sambil menaruh palet dan kuas di tempatnya lalu melangkahkan kaki menuju kran yang ada di dekatku.
            “Udahlah ikut aja sama gue.” ajak Rasya sembari menarik tanganku dan menuju mobilnya.
            Perjalanan kami habiskan dengan mengobrol dan bercanda sambil mendengarkan musik. Mobil Rasya tiba-tiba berhenti di depan sebuah restoran.
            “Ayo turun, kita makan. Gue laper banget Ga..” ajak Rasya.
            “Tapi gue udah makan tadi Sya.” balasku
            “Alah, makan lagi juga gak masalah kan bro?”
            Akhirnya kami turun dan masuk ke dalam restoran itu. Kami mencari tempat duduk yang pas untuk kami. Setelah itu peayan datang dan menanyakan apa pesanan kami, aku hanya memesan jus jeruk dan kentang goreng. Pesanan datang, aku hanya mendengarkan musik sambil menikmati kentang goreng yang telah aku pesan tadi. Rasya kelihatannya sangat kelaparan. Ia cepat sekali menghabiskan makanannya.
            Bro, lu gak pengen punya pacar?” tanya Rasya. Kata kata itu mengagetkanku. Seketika aku melepaskan headphoneku.
            “Hah? Pertanyaan macam apa tu? Kenapa lu tanya gitu?” rasa penasaranku datang karena tidak biasanya Rasya tanya seperti itu.
            “Hahaha, lu kaget amat sih cuma ditanyain gitu doang? Ya nggak papa bro, tanya doang. Kalo dilihat-lihat cewek pasti banyak yang naksir sama lu.” jawab Rasya.
            “Ngomong apaan sih?”
            Tiba tiba terdengar suara seseorang dari jauh memamnggil Rasya.
            “Rasyaa”
            “Eh, Karin. Apa kabar kamu? Kok di sini?” sapa Rasya kepada seorang perempuan itu.
Badannya kurus, tinggi dan dia memakai jilbab. Rasya memanggilnya Karin.
            “Iya nih, habis makan sendirian, tau kamu di sini aku ikut deh.” balas Karin
            “Kamu nggak bilang sih Rin, sini duduk. O iya, kenalin ini Dirga sahabatku dari SMA. Dirga, ini Karin temen gue di rumah. Tetangga rumah. Dia jarang kelihatan, anak sibuk.” Rasya mengenalkanku kepada perempuan itu.
            Kami bersalaman dan saling berekenalan. Aku akui dia cantik, ramah pula.  Kami bertiga menghabiskan waktu bercerita bersama. Waktu telah menunjukkan pukul 14.00, kami memutuskan untuk pulang.
            “Rin, kamu bawa kendaraan nggak?” tanya Rasya.
            “Enggak Sya, tadi aku naik taksi.” jawab Karin.
            “Ikut kita aja yuk, lagian kan deket juga rumah kita. Rumah Dirga juga nggak jauh dari rumah kita Rin.” ajak Rasya.
            “Nggak ngerepotin Sya?”
            “Enggaklah Rin, kayak sama siapa aja sih?”
            “Hahaha, boleh deh.”
            “Yaudah yuk keburu sore ntar.”
            Kami akhirnya masuk ke dalam mobil dan bergegas pulang. Karin duduk di belakang sendirian. Setelah beberapa waktu kemudian, kami sampai di rumahku.
            “Makasih bro udah ngajak jalan. Mari Rin..” sapaku ke Rasya dan Karin.
            “Sama sama bro
            “Iya Ga, kapan kapan main lagi ya” balas Karin.
            “Iyaa..” balasku sambil tersenyum.
            Setelah itu, aku mandi dan mengerjakan tugas dari dosen. Banyaknya bukan main. Tiba tiba handphoneku berbunyi tanda ada BBM masuk.
            “Ga, Karin cantik ya”
Ternyata BBm itu dari Rasya. Tidak penting sekali tiba-tiba dia BBM hanya  bicara seperti itu.
            “Iya Sya, memang cantik.”
            “Lu gak naksir sama dia bro?”
            “Astaga, apaan sih, baru juga kenal.”
            “Hmm, yaudah deh”
Aku hanya membaca pesan dari Rasya yang terakhir dan aku langsung tidur.
***
            Di rumah aku hanya tinggal sendirian, rumah ayah lumayan besar untuk aku tinggali sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, tinggal aku yang tersisa. Semua saudaraku tidak ada yang tinggal di Yogya.
            Pagi ini aku masuk jam 9. Aku hidup dari uang ayah, tapi aku tidak bisa terus-terusan mengandalkan semua peninggalan ayah. Pasti akan habis suatu saat nanti. Aku harus bekerja, apapun itu. Pagi ini aku sarapan sangat lama karena aku memikirkan apa yang harus aku lakukan.
            “Mungkin aku harus minta saran Rasya, hanya dia yang bisa membantuku.” pikirku.
            Aku bergegas mengirim pesan untuk Rasya.
            Bro, lu nanti kuliah sampek jam berapa? Gue mau ketemu. Ada yang mau gue omongin.”
Tak lama kemudian, Rasya membalas.
            “Ntar jam 5 an Ga, gimana? Kalo jadi ntar gue jemput aja sekalian keluar”
            “Oke, jadi.”
Aku melihat jam sudah pukul 08.00, buru-buru aku mandi dan mencari kemeja yang pas untuk kupakai. 30 menit sudah aku habiskan untuk siap-siap. Langsung aku ambil kunci motor, mengunci semua pintu dan bergegas berangkat ke kampus.
Jam 15.00 aku sudah selesai kuliah. Sore ini panas sekali, aku ingin buru-buru pulang dan mengguyurkan air dingin ke seluruh badanku. Sesampainya di rumah, aku langsung menaruh tas dan masuk ke kamar mandi. Segar sekali setelah mandi. Aku melihat handphoneku, ternyata ada BBM masuk.
Bro, habis maghrib aja ya perginya, nanggung kalo jam 5.” BBM dari Rasya.
“Oke, gue juga mau sholat maghrib dulu.”
Adzan maghrib telah dikumandangkan. Masjid tidak jauh dari rumahku, jadi adzan sangat jelas terdengar. Setiap maghrib aku teringat ayah, bunda dan Tasya. Setiap maghrib aku dan ayah selalu pergi ke masjid sedangkan bunda dan Tasya selalu berjama’ah di rumah. Aku sudah siap menggunakan baju koko dan sarung serta tak lupa minyak wangi aku semprotkan ke tubuhku. Setelah siap, aku langsung berangkat ke masjid.
“Dirga..” sapa seseorang dari belakangku dan aku mengenal suaranya sepertii..
“Karin,”
“Rajin juga kamu Ga ke masjid.” benar dugaanku bahwa itu Karin, dia menggunakan mukena berwarna tosca.
“Hahaha, iya. Kamu juga sering ke masjid?” tanyaku padanya sehingga kita berjalan bersama.
“Iya, kalau sudah pulang dari kampus sebelum maghrib aku sempatkan untuk sholat di masjid. Rumahmu mana Ga?” jelas Karin
“Rajin sekali. Itu “ aku menunjuk rumah yang pagarnya berwarna coklat.
“Oh, yaudah aku duluan ya Ga.” karena sudah sampai masjid kami berpisah.
“Yoii”
Salat Maghrib pun sudah aku laksanakan. Sekarang saatnya pulang dan siap siap untuk pergi.
Aku sudah siap untuk pergi bersama Rasya. Tiba tiba suara klakson mobil Rasya terdengar di telingaku.
“Kenapa harus pake mobil segala, kan bisa naik motor.” batinku
Aku keluar menemui Rasya, menghampiri ke arah mobilnya. Aku ketuk kaca mobilnya.
Bro.. kenapa..” belum selesai aku bertanya mataku tertuju ke arah seseorang yang duduk di jok belakang, ternyata ada Karin di sana. Tidak aku lanjutkan pertanyaan itu.
“Eh ada Karin” sapaku
“Iya Ga, nggak papa kan aku ikut? Aku bosen banget di rumah.” jawab Karin.
“Iya nggak papa kalik, santai aja”
“Bro buruan masuk. Ngapain lu di luar terus.” Panggilan Rasya menyadarkanku bahwa aku masih di luar mobil.
“Iya sebentar, gue kunci rumah dulu. Ambil duit sekalian.”
“Buruan yaa”
Karin sudah mengetahui bahwa Dirga hidup seorang diri. Rasya menceritakannya sepulang dari restoran kemarin.
Aku menggunakan kaos dengan jaket jins dan celana jins. Rasya menggunakan kemeja yang lengannya ia tekuk sampai siku dengan bawahan celana jins. Sedangkan Karin menggunakan baju lengan panjang berwarna hijau dengan celana jins dan jilbab ala kadarnya.
“Mau ke mana bro?” tanya Rasya kepadaku
Manut” jawabku
“Ke cafe Legend aja yuk” ajak Karin
“Tempatnya enak buat ngobrol” tambah Karin
“Aku sih manut aja”
“Yaudah ke sana aja, tau jalannya kan rin?” tanya Rasya kepada Karin.
“Asiiiik, taulah Sya”
Aku sibuk dengan musik dari radio, sedangkan Rasya fokus dengan arahan Karin menuju cafe Legend. Mobil sudah di parkir, aku melihat kesekeliling tidak begitu penuh, mungkin karena ini adalah hari sekolah sehingga tidak banyak yang datang. Kami turun dari mobil, yang jalan di depan jelas Karin karena dia yang tau tempat ini. Kami sudah mendapatkan tempat duduk, dan memesan makanan, kali ini aku pesan makanan berat karena aku belum makan malam, sengaja karena pasti kita akan makan nantinya.
Lu mau ngomong apa sih bro? Kayaknya penting banget” tanya Rasya dengan wajah penasaran.
Aku menjelaskan semua pemikiranku tadi saat sarapan. Mau tidak mau Karin tahu kalau aku sudah tidak punya keluarga lagi.
“Iya aku ngerti kok Ga. Rasya sudah cerita semuanya sama aku.” aku kaget setelah Karin berbicara seperti itu.
“Maaf ya bro gue cerita ke Karin, bukan maksud apa-apa, tapi dari pada nantinya dia malah tanya-tanya dan menyinggung lo.” jelas Rasya kepadaku.
Aku mengerti maksud Rasya.
“Iya bro, nggak papa kalik. Gue malah lega jadi nggak harus nyeritain semuanya sama Karin. Bikin gue kepikiran lagi sama mereka.” jawabku
“Jadi gimana bro menurut lo? Gue harus apa? Nggak mungkin kan semua harta ayah akan bertahan? Kalo dipake terus bakalannya juga habis.” tanyaku pada Rasya
“Kalo kamu punya saran bilang aja Rin, aku juga butuh saranmu” tanyaku pada Karin.
Setelah itu, pesanan minuman kami datang, pembicaraan terhenti sebentar.
“Kalo menurut gue ya bro, mendingan lu jualan apa gitu, yang itu enak di lo buatnya juga banyak peminatnya.” usul Rasya
“Bener tu Ga, kalo menurutku jualannya di sunmornya UGM tuh, banyak mahasiswa yang suka jualan juga. Ya kan lumayan” Karin menyetujui.
“Bener juga kalian, tapi jualan apa ya?” tanyaku
Kami semua berpikir, apa yang harus aku jual.
“Bagaiman kalau sosis bakar? Kita tinggal beli sosisnya terus buat bumbunya, dibakar selesai deh.” suara Karin mengagetkanku dan Rasya sehingga bangun dari lamunan kami.
“Aku siap membantu kok Ga, kalau aku ada waktu luang ya tapi.” ujar Karin.
“Boleh juga, setuju aku. Lu gimana bro?” tanyaku pada Rasya
Gue setuju banget tu, simpel juga. Bumbu juga tinggal cari di internet.” Rasya menyetujui.
***
Semenjak saat itu, kami berjualan setiap hari Minggu. Karin dan Rasya selalu menyempatkan waktunya untuk membantuku. Sedikit demi sedikit uang terkumpul. Memang awalnya tidak mudah, modal juga banyak. Tapi aku juga tidak bisa menyerah begitu saja, tidak mungkin uang dan semua peninggalan ayah akan bertahan. Kalau aku pakai terus akan habis pastinya. Awalnya tidak banyak yang beli, tidak ada yang tertarik. Tapi seminggu kemudian aku mencoba membuat lebih menarik tampilan sosis itu juga tampilan standku agar membuat orang-orang yang berdatangan tertarik untuk membeli. Beberapa orang datang, mungkin penasaran dengan apa yang aku jual. Setelah beberapa waktu berjalan, orang-orang mulai berdatangan. Mereka mulai menyukai sosis yang aku jual. Hingga aku mempunyai pelanggan tetap. Sangat mengasyikkan bisa mencari uang sendiri, hidup dengan uang hasil jerih payahku. Aku sangat berterima kasih kepada Rasya dan Karin, mereka sahabat yang tak pandang bulu. Ingatanku kembali kepada ayah, bunda dan Tasya, andai mereka masih di sini, melihat jerih payahku mencari uang, pasti mereka bangga. Akhirnya aku memutuskan untuk melukis di halaman depan, semoga saja ada inspirasi. Melukislah yang bisa menumpahkan semua perasaanku, di kanvas aku bisa bercerita apa saja yang sedang aku rasakan.
Aku melihat mawar itu belum mekar juga. Sedikit cerita, aku melihat mawar itu ada di halaman rumah tetangga, tapi tidak tahu siapa pemilik rumah itu, hanya mawarnya yang menjadi pusat perhatianku. Saat aku sedang menyiapkan cat untuk melukis, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku.
“Dirga..”
“Karin, kok bisa di sini?” ternyata karin yang menepuk pundakku.
“Iya, habisnya gerbangnya nggak dikunci, aku salam juga kamu nggak jawab-jawab jadi aku langsung masuk, maaf ya.” jelas Karin kepadaku.
“Iya, nggak papa. Habis dari mana Rin?”
“Jalan-jalan sore aja. Kamu suka ngelukis ya Ga?” tanya Karin.
“Oh, iya aku senang sekali melukis, inilah luapan rinduku kepada ayah, bunda dan adikku Tasya.” jelasku.
Aku mengambilkan kursi untuk Karin agar bisa duduk dan mengobrol bersamaku.
“Duduk Rin,” suruhku.
“Iya, makasih Ga. Udah siap semua ini catnya? Mau gambar apa?”
“Nggak tau mau gambar apa, sejadinya aja ntar jadi apa Rin.”
“Ga, maaf ya sebelumnya, aku mau tanya. Kamu sambil ngelukis aja, aku juga mau lihat seberapa hebat kamu ngelukis. Ga, apa kamu belum bisa merelakan kepergian ayah, bunda dan adikmu Tasya?” tanya Karin dengan perlahan karena takut menyinggung perasaanku.
Seketika aku terhenti melukis. Baru pertama kali ada seseorang yang bertanya sampai sejauh itu kepadaku. Rasya saja tidak pernah.
“Hmm, gimana ya Rin, aku masih merasa bersalah sama mereka. Aku merasa bahwa akulah yang menyebabkan mereka tiada.” Aku ungkapkan apa yang aku rasakan sembari aku menaruh palet ku.
“Aku paling tidak suka melihat cowok lembek. Ga, aku tau itu memang berat buat kamu, tapi apa kamu akan terus-terusan seperti ini? Mengurung diri tanpa berkomunikasi dengan siapapun, menyalahkan diri sendiri. Apa itu akan membuat mereka kembali ke dunia ini? Apa membuat mereka di sana tenang? Kamu sudah berapa lama seperti ini Ga? Aku memang baru kenal dengan kamu, tapi aku tidak suka dengan sikapmu yang lemah. Aku seperti ini karena aku ingin menjadi sahabat yang terbaik buat kamu. Rasya pasti akan mengatakan hal yang sama, mungkin dia sudah memendam kata-kata ini dari lama. Mungkin dia ingin mengungkapkan tapi tidak berani, tidak ada waktu yang pas. Dirga, kamu harus jadi laki-laki yang kuat. Hadapi kehidupan dunia ini. Ayah, bunda dan adikmu pasti bangga denganmu jika kamu bisa sukses. Doakan mereka Ga, hanya doa dari anak saleh yang bisa menghantarkan mereka ke surga. Kamu Ga orangnya.” jelas Karin sore itu.
Aku hanya bisa terdiam, menelaah kata-kata Karin. Berfikir apakah kata-kata yang Karin bilang benar adanya.
“Rin, baru kali ini ada yang berani bicara seperti itu sama aku. Apakah semua orang di sekitarku merasakan perbedaanku? Aku tidak menyadari hal itu. Aku hanya terjebak di dalam pikiran bahwa aku yang menyebabkan ayah, bunda dan Tasya tiada.” jawabku lirih .
“Ga, aku memberanikan diri untuk berbicara seperti ini sama kamu. Kalau gak ada yang berani kamu nggak akan berubah. Seumur hidupmu kamu akan seperti ini terus, dihantui rasa bersalah. Pati 0rang-orang di sekelilingmu merasakan perbedaanmu Ga. Pasti itu. Kamu boleh sedih, tapi kesedihan yang berkepanjangan itu nggak baik.” ujar Karin.
“Asal kamu tau ya Ga, aku sudah tidak memiliki ayah. Ayah meninggal karena sakit. Beliau sakit kanker Ga. Setelah ayah meninggal aku sepertimu, tidak mau ke mana-mana, mengurung diri, menutup diri dari dunia. Tapi mama datang dan mengatakan kalau aku seperti itu terus apa ayah akan kembali? Ayah tidak akan kembali. Kata mama juga, cari positifnya. Ayah sudah merasakan penderitaan sejak lama. Ayah meninggal adalah hal yang terbaik yang diberi Allah, karena ayah tidak merasakan kesakitan lagi. Ayah tenang. Sejak itu aku berfikir keras. Aku mulai mengerti semuanya. Aku beranikan diri mencoba dari awal lagi. Aku berhasil. Setiap ada kemauan, pasti ada jalan Ga.” cerita Karin sore itu.
Aku tercengang mendengar cerita gadis cantik itu. Dia terlihat tegar dan kuat. Aku mengira bahwa hidupnya lurus-lurus saja.
“Maaf  Rin kalau aku menyinggung kamu. Mengingatkanmu pada ayahmu. Aku akan mencoba Rin. Aku usahakan apa yang kamu bilang aku lakuin.” tiba-tiba semangatku muncul.
“Nggak kalik Ga, aku malah senang bisa berbagi sama kamu.” ujar Karin.
“Ga, aku pulang dulu ya, maaf aku banyak ngomong. Inilah aku yang sebenarnya, cewek yang cerewet. Hahahaha. Besok kita sambung lagi. Udah sore banget ini.” tambah Karin.
“Iya Rin, kirain anteng ternyata cerewet tho.. hahahaha, mau dianter nggak?” balasku
“Enggak usah, dekat kok rumahku. Udh ya Ga, assalammualaikum.”
“Makasih banyak ya Rin, waalaikumussalam.”
Adzan Maghrib dikumandangkan setelah beberapa menit Karin meninggalkan rumahku. Aku bergegas untuk salat ke masjid.
***
Cahaya matahari menembus jendela kamarku, membangunkanku di pagi ini. Hari ini aku tidak memiliki kegiatan apapun, mungkin aku kan menelaah apa yang telah dikatakn Karin kemarin sore.
Mungkin kata-kata Karin itu benar adanya, aku menutup diriku dari dunia ini. aku menjauh dari semua orang. Apa yang aku lakukan membuat mereka kembali? Ayah, bunda dan Tasya tidak mungkin kembali lagi. Sekarang saatnya aku yang berjuang. Berjuang meraih kesuksesan. Semangatku muncul seketika. Merasa baru saja lahir ke dunia ini. membuka mata, melihat ke sekeliling merasa pagi ini adalah pagi yang cerah. Hari baru telah tiba. Aku berencana datang ke makam ayah, bunda dan Tasya.
Setelah aku bersih-bersih diri, aku mangambil sepeda motorku dan pergi ke makam mereka. Aku berdoa, aku bercerita semua yang aku alami, meminta maaf karena membuat mereka tak tenang. Sekarang aku mearas lebih lega.
Kunyalakan mesin motorku untuk bergegas pulang. Perjalanan terasa lama, aku hentikan motorku di pom bensin. Bensin mulai menipis. Pom bensin tak jauh lagi dari rumah. Aku melihat dari kejauhan sosok perempuan, sepertinya aku kenal.
“Kariiinnnn” suaraku menggelegar menembus awan
Karin melambaikan tangannya kepadaku. Aku memberi isyarat agar dia jangan ke mana-mana. Selesai mengisi bensin, aku datangi Karin di sebrang jalan.
“Dari mana?” tanyaku
“Dari situ Ga, kamu dari mana?” Karin menunjukkan satu supermarket.
“Habis dari makam. Bareng aja yuk Rin.”
“Boleh.”
Karin langsung membonceng di belakangku. Di jalan, aku mencoba mengobrol dengan Karin.
“Rin, makasih ya sudah memotivasiku.” Ujarku
“Hahaha, itu hanya sebuah penyemangat. Yang hebat itu kamu. Bisa mengalahkan perasaan jelekmu itu.”
“Tapi kalau kamu nggak bilang aku juga nggak bisa begini. Makasih banyak ya Rin.”
“Iya, sama-sama. Jangan sia-siakan hidup ya Ga.”
“Siap bos.”
Kami telah sampai di depan rumahku. Aku mengajaknya untuk mampir sebentar. Aku mengeluarkan peralatan menggambar, seperti biasa di halaman depan.
“Rin duduk situ ya, jangan gerak” pintaku pada Karin
“Buat apa? Mau ngelukis aku ya?”
“Hahahaha, baru kali ini aku mau ngelukis orang. Perempuan lagi.” candaku padanya.
Akhirnya aku melukis paras cantiknya itu, kuselipkan bunga mawar di dalam lukisan itu, seakan Karin memegang bunga mawar di tangannya. Aku tersenyum-senyum sendiri melukis Karin, dia lucu, menyenangkan dan baik. Lukisanpun sudah jadi, aku perlihatkan kepada sang model.
“Bagus sekali Ga.” wajah Karin terlihat sumringah.
“Makasih, itu juga modelnya bagus buat dilukis. Ngomong-ngomong rumahmu di mana sih Rin?” tanyaku penasaran
Gombal kamu Ga. Itu yang ada bunga mawarnya. Wah, bunganya sudah mekar.”
Aku terkejut mendengar bahwa rumah yang memiliki bunga mawar di  halaman depan adalah rumah Karin. Semenjak itu, aku dan Karin semakin dekat. Rasya akhir-akhir ini sibuk dengan urusan kampusnya. Tapi tak jarang ia bermain bersama kami. Aku dan Karin sering menghabiskan waktu berdua. Hingga aku merasa ada kecocokan antara kita berdua. Aku mencoba mengungkapkan perasaanku kepadanya, hanya sebatas mengungkapakan, dan kami berdua bersepakat untuk berkomitmen. Sekarang aku bisa melihat mawar indah setiap hari, pemilik mawar yaitu Karin, dan mawar itu sendiri.
TAMAT
0 Komentar untuk "Elang Dirga"

Back To Top