Malam Ini Adalah Malam Terakhir Peradaban Manusia



Oleh: Afkar Aristoteles Mukhaer

Malam itu ledakan bom sangatlah menggetarkan hati para pendosa yang tak tahu apa-apa, memakan dan meluluhlantahkan segala yang ada di sudut kota itu hingga tak tersisa. Kota dipenuhi api yang tak kunjung padam.
            Bagaimana akan padam? Semua orang yang tersisa hanyalah sebuah bayang-bayang kenangan yang terbang melukis kisah-kisah pemilik bayangnya yang telah mati ditinggalkan jasadnya. Mayat-mayat sudah bergelimpangan di setiap sisi jalan dan tak ada satupun yang tersisa. Sebut saja kota ini adalah kota mati. Kota akhir peradaban umat manusia. Semua sudah luluhlantah dan hangus terbakar tak tersisa. Kalau kau ingin melihat apa yang pernah ada, lihatlah pada asap-asap kisah perjalanan bagaimana kota ini bisa tiada tanpa sisa.
            Dan aku? Aku sudah menjadi arang yang sekali sentuh sisinya akan rapuh dan tak kuat lagi menjadi saksi dalam kisah hidup manusia. Dan hanya dalam sekejap saja, aku hilang termakan waktu dan tak mampu sisakan cerita untuk dunia. Namun, aku adalah saksi bisu dalam kehidupan mereka yang kian hari merajalela untuk kerusakan. Mungkin aku bisa selamat dari kegilaan ini semua. Seharusnya kupatuhi kata-kata Langit, dia akan membawaku terbang jauh meninggalkan tempat ini. Bodohnya aku tak memperdulikan kawanku. Sudahlah, batu sudah menjadi abu. Kota ini hancur karena kerakusan manusia. Hancur lebur karena ego masing-masing dan tak peduli akan kebersamaan, padahal mereka adalah umat yang percaya akan Tuhan. Langit, harusnya aku percaya akan kata-katamu.
            Lantas mengapa manusia harus diciptakan bila mereka hendak saling bertumpah darah? Itu pertanyaan malaikat pada Tuhan. Tuhan merahasiakan. Langit tak akan menjawab.
***
            “Malam ini adalah malam terakhir peradaban umat manusia. Dimana manusia tak kenal lagi moral, tak kenal lagi sisi-sisi berbagi dan kemanusiaan.”
            Itulah kata-kata yang terucap oleh pengemis malang yang baru saja melintas melewatiku. Mungkin aku tak terlihat dan tak dianggap oleh mereka. Karena aku hanyalah sebuah batu kecil di dekat pusat kota yang sumpek ini. Pengemis tadi sepertinya pergi dari alun-alun kota, mungkin karena dia resah dan gelisah atas semua manusia yang ada di kota ini, yang kian hari kian menjadi bobrok gubuk moralnya dalam hidup.
            Setelah kulihat itu, Langit gelap tiba-tiba memanggilku. Biasanya bila langit memanggilku, akan ada kejadian besar yang akan datang kepada kota ini. Bisa saja hujan yang akan datang, karena sekian lama kota ini tidak diguyuri hujan, atau.. apalah!
            Hei. Kerikil kecil. Pergilah dari kota ini, kota ini sudah tidak aman lagi bagimu” kata Langit kepadaku.
            “Apa? Bagaimana aku bisa pergi dari tempat ini? Sedang kaki saja aku tak punya” jawabku.
            “Aku akan menyertakan angin padamu, hendaklah kamu bersiap diri”
            “Memangnya apa yang akan terjadi pada kota ini?” tanyaku penasaran akan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Langit.
            “Kota ini akan hancur dalam semalam saja, percayalah. Akan muncul dua orang lelaki bergamis dan berkalung sorban yang membawa kotak besar yang akan menghancurkan kota ini.Kota ini adalah kota terakhir yang dapat dihuni manusia setelah semua negeri di dunia ini hancur lebur karena rekan-rekan mereka” jawabnya.
            Hei. Langit. Aku tak percaya padamu, aku sudah sering mendapatkan kabar dari manusia-manusia yang lalu-lalang dihadapanku.Tapi tak ada satupun dari mereka membahas dari negeri-negeri lain. Kalaupun sedikit dari mereka yang tahu, hendaknya mereka yang memiliki sanak famili di negeri lain, pasti akan datang dan menjenguk mereka” tantangku meragukan beritanya.
            “Kerikil, tahu apa kamu? Manusia jamansekarang hanyalah mempedulikanego masing-masing, bukankah telah kau lihat?” Langit menentang kembali kepadaku.
            “Tidak juga, mereka masih saling membutuhkan disini. Kau lihat saja transaksi yang dilakukan sekelompok orang dalam jual beli. Lihat pula bagaimana para bartender membutuhkan pelanggannya.” Jawabku
            Ah… terserah kamu sajalah, aku tak lagi bisa membantumu, anginku tidak akan jadi datang menjemputmu.” Langit mengalihkan muka dariku.
            Aku terdiam. Padahal telah lama aku dan Langit merangkai persahabatan, walau dia bisa datang tanpa diundang dan tak bisa aku memanggilnya. Langit mengalihkan wajah tak memandangiku.
            Kalau boleh kuperkenalkan diri. Aku adalah Kerikil yang tergeletak di jalanan yang dilalui oleh para manusia. Aku bukan bermaksud sok tahu akan keadaan mereka yang memiliki akal dan mampu berpikir. Tak seperti aku. Justru seringkali akulah yang memandang keadaan mereka dengan tatapanku yang dingin. Kebanyakan manusia zaman sekarang lebih senang memilih hidupnya yang lebih mudah untuk dijalani. Mungkin karena mereka sudah merasa seperti raja atas segala tahta di dunia yang ada. Tak sedikit pula manusia lebih memilih untuk menyenangkan diri sendiri dan bertindak sesuka hatinya, daripada harus memedulikan kebutuhan orang lain. Mereka mempunyai permasalahan pada diri sendiri meskipun tak seberapa, mereka merasa menjadi makhluk yang paling menderita di dunia dengan segala kegalauan yang ada. Aku sering kali menjadi bahan pelampiasan emosi mereka, mungkin karena aku keras dan bisa menjadi pelontar emosi mereka.
            Kalau aku boleh cerita, aku telah mengalami banyak penderitaan karena mereka. Aku pernah menjadi bola sepak ketika aku harus menemani seorang yang gundah-gulana dengan pikuk masalah sepele. Palingan masalah cinta. Dan yang paling tragis dalam hidupku, aku bersama sejuta kawan-kawanku pernah digunakan menjadi pelempar emosi ketika manusia datang bergerombol untuk melukai, pun saat mereka membunuh sekelompok manusia yang tak mereka sukai. Namun, menjadi batu haruslah tegar, keras dan yakin pada diri sendiri.
            Namun harus kuakui. Malam ini, malam terakhir peradaban umat manusia.
            Aku merasa dunia sudah terkikiskan dengan cahaya matahari senja dengan memamerkan warna merah saga yang lebih tampak seperti akan terjadi sebuah keburukan nista yang akan terlahirkan di malam hari. Burung-burung gereja saja mulai malu-malu untuk keluar.Mereka lebih memilih hinggap diatas gedung-gedung tinggi yang menjulang, yang sarangnya saja tak terbuat dari serabut-serabut pohon alami, melainkan dari kawat-kawat besi yang dingin. Mungkin mereka lebih hidup dingin agar terbiasa dengan hati para manusia yang dingin tanpa belas kasih padanya. Para ustad yang biasanya akan pergi menuju masjid untuk mengumandangkan adzan, sudah mulai lupa untuk mengumandangkan nama Tuhannya kepelosok lika-liku kehidupan.Ia memilih untuk mengetahui waktu sholat sendiri dan tak mau berbagi pada yang lain bila waktu maghrib akan tiba dalam hitungan menit.Mungkin mereka lebih baik memiliki kesempatan bercinta sendiri kepada Tuhan, daripada harus lelah-lelah menyerukan pada manusia lainnya dan akan membuang-buang usaha saja. Bartender-bartender pun mulai membuka lapak-lapak kedai minumnya dan menjajakan kedainya kepada orang-orang yang kebetulan lewat.
            Dan akhirnya malam pun tiba. Malam kini terlihat begitu penuh kunang-kunang elektrik yang terpasang dimana-mana, mereka pun bisa saja menari-nari dalam tarian diskotik dan mengikuti dentuman irama yang penuh degap-degup. Tak hanya itu, di sisi lain, aku memandang ribuan mayat hidup yang keluar dari kedai-kedai minum di seberang jalan.Aku berdiam, mereka tampak seperti berkhayal bila dunia ini miliknya.Mereka tergila-gila pada anggur, itu sebabnya mereka memilih anggur untuk memiliki dunia hingga pada akhirnya mereka pasti akan tersadar sendiri bila khayal mereka bagai kehidupan laron yang mendambakan cahaya lampu.Namun, pada akhirnya mereka mati sendiri. Sedangkan di sisi sepi pada kota, terdapatlah hotel sederhana yang tak begitu megah, dan tak begitu mahal.Disanalah para wanita memanja genit kepada kaum pria yang mungkin saja kelelahan oleh aktivitasnya di siang hari.Mereka kemudian saling tawar-menawar harga, entah apa yang akan dibayar, tetapi yang kutahu, disanalah tempat wanita menyewakan hak-hak kelaminnya pada pria dengan begitu murah. Sedang tak jauh dari hotel tersebut, ada 2-3 laki-laki yang bergerombol, nampaknya mereka sedang bertransaksi atas sebuah barang rahasia yang diduga diedarkan gelap-gelap di tepi jalan yang juga gelap.Seluk-beluk nampak terlihat, bahwa mereka ternyata bertransaksi narkoba, mereka menjualbelikan tampak seperti mafia gelap.Tak tahu untuk apa, tapi kuyakin itu sangat mengerikan. Langit, apa yang kau kata ternyata benar
            Setelah sekian lama aku bersahabat dengan Langit, tak kusangka akhirnya kami terpecahkan hanya karena urusan manusia. Mungkin benar, manusialah penyebab semua alam saling bergetar. Tetapi walaupun apa yang dikatakan oleh Langit benar, aku tidak seratus persen mempercayainya bila manusia hanya memperdulikan ego mereka dan tak memandang orang lain. Benar bila mereka egois dalam berbagai hal, semisal adzan di masjid tadi yang tak kunjung dikumandangkan. Tapi itu adalah simbolik untuk menghormati agama lain agar tak berisik. Lagipula manusia yang beragama Islam bisa saja menggunakan ponselnya untuk adzan yang terjadwal. Begitu juga dengan gereja yang seharusnya berdentang loncengnya petang tadi, tetapi sama sekali tidak diloncengkan seharian. Padahal hari ini adalah hari Minggu, tetapi umat Kristiani tidak menyadarinya, mungkin untuk menghormati yang muslim.
            Tapi, seperti itukah untuk menghormati agama saudara lainnya hingga melupakan agama sendiri? Aku tak tahu. Aku tak beragama.
***
            “Malam ini adalah malam terakhir peradaban umat manusia! Menyesallah kalian para pendosa. Kalian akan mati. Kalian terpanggang di dunia maupun alam baka! Menyesallah kalian, Manusia! Mampuslah kau umat adam!”
            Pengemis malang itu datang kembali, dan kini berteriak-teriak kesetanan sambil berjalan menuju arah yang berlawanan dari arah yang tadi, ia tampak gelisah, dan sepertinya ia butuh tumpangan untuk pergi ke sesuatu tempat. Dan beruntung sekali pengemis tersebut langsung didatangi sebuah mobil yang berisi anak-anak muda dengan mobil sedan yang berdandan berlebihan.
            “Bapak, butuh tumpangan, ya?” tanya salah satu pemuda tersebut.
            “Iya, nak. Bisa antarkan saya ke mana saja, asal jangan di kota ini?” jawabnya pengemis malang itu.
            Pemuda lain yang di dalam mobil cekikikan meremehkan.
            “Memangnya ada apa dengan kota ini?”
            “Akan datang sebuah malapetaka besar yang akan turun di tempat ini, nak. Tuhan akan menurunkan bencana begitu besar” katanya gemetaran.
            “Dasar orang gila! Mana mungkin di tempat seperti ini ada malapetaka? Gunung saja jauh dari sini, air untuk tsunamipun butuh 5 hari untuk kesana. Pembual gila!” cemooh seorang pemuda di dalam.
            “Sinting!” ejek yang lain.
            Kemudian mobil berisi pemuda-pemuda itu pun pergi meninggalkan pria malang itu.
            Sekali lagi, Langit. Kau benar atas perkataanmu. Dalam hati aku ingin Langit kembali datang kepadaku.Walau Langit terlihat jelas diatas, namun sulit sekali untuk memanggilnya.Bahkan mustahil. Dia hanya datang ketika akan membawa berita saja. Langit, aku telah melihat semuanya, kumohon datanglah kepadaku dan bawalah anginmu dan bawa pergilah aku. Hatiku bergetar karena aku menjadi yakin atas apa yang dikatakannya. Mungkin sekarang Langit tertawa sinis atas kebodohanku yang tidak percaya padanya, dan kini dia menanti kejadian yang paling ditunggu-tunggu dalam akhir kisah peradaban manusia ini.
            Tak berlangsung lama, aku saksikan dari masjid yang sama sekali tak mengumandangkan adzannya di langit kota ini, muncul dua orang yang sepertinya saling membetulkan sesuatu di badan mereka. Aku tak tahu, tetapi masjid itu memang sepi pengunjung, hanya ada dua orang saja yang kulihat kali ini, dan nampaknya asing sekali kulihat mereka. Mereka sepertinya bukan asli kota ini, namun pakaian mereka gamis putih suci, lengkap dengan peci putih di kepala dan sorban yang melingkari leher mereka. Mereka datang seperti apa yang dikatakan Langit kepadaku saat senja tadi. Aku gemetar tak berdaya. Mereka berjalan dengan hentakan kaki yang halus namun penuh dengan keberanian. Aku tercengang.
Tak akan ada yang mengira. Mereka seperti hantu yang menghantui diri mereka, tetapi mereka tak takut atas apa yang akan menimpa mereka. Seorang bergamis yang memasuki kedai minum jalan begitu santai saja, seolah dirinya hanyalah makhluk halus yang berlalu-lalang dan ghaib di mata mereka.Sementara, para penghuni kedai minum nampaknya pengelihatannya terus tertutup anggur, madu atau mungkin candu.
            Pria yang bergamis satulagi berjalan penuh hati-hati ke arah pom bensin yang ramai akan pengunjung. Ia berjalan dengan sangat hati-hati. Langkahnya nampak sudah dicurigai oleh pegawai pom bensin tersebut, namun pegawai tersebut tak menggubrisnya, ia lebih memilih melayani pelanggan dan mendapatkan uang yang bisa saja sebagian ia korup dan masukan ke kantongnya. Pria itu langsung menuju tempat tervital dari pom bensin tersebut. Tempat penyimpanan bensin.
            Pria bergamis di pom bensin itu nampaknya menggunakan sejenis HT, mungkin digunakan untuk menghubungi rekannya yang siap beraksi di dalam kedai minuman.
            “Hasim, sudah siapkah kau?” Tanyanya kearah yang diduga memanglah HT
            “Sebentar lagi, Hafiz. Sepertinya akan datang rombongan pemuda yang jumlahnya lebih besar yang hendak masuk kedalam.” Jawab seseorang dari HT tersebut
            “Baiklah, bila siap, kabari aku. Segera!” Perintahnya
            Hening.
            1 menit belum ada kabar apapun dari HT tersebut. 2 menit tak kunjung ada kabar. Nampak gelisah pria yang berjaga pada pom bensin itu. 3 menit pun telah berlalu.
            “Hafiz, persiapan siap.” informasi dari HT tersebut.
            “baik, Hasim. Segera meledak dan akhiri semua!” bisiknya sedikit berseru.
            “Allahu Akbar!!!!” seru dalam HT tersebut
            Dan...
            BOOOOMMMMBBBB!!!!! DUARRRRRRR!!!!
            Terjadi dua kali ledakan pada kedai minuman itu. Hatiku hancur sekaligus sedih karena tak menghiraukan perkataan Langit. Ledakannya melontarkan jenazah-jenazah manusia yang malang dan bersimbah dosa. Manusia yang sekarat dan berlari-larian tak tahu arah, mereka hanya seperti kumbang yang berterbangan dengan suara-suara parau dan menyakitkan. Mataku mengeluarkan air mata. Bangunan kedai minuman itu terlontar ke penjuru kota dan menghancurkan gedung-gedung disekitarnya. Aku menangis tak tahu bagaimana tuk bertahan.
            Teriakan yang diserukan adalah mengagungkan nama Tuhan, tetapi ia menghancurkan segala ciptaan Tuhan. Apakah Tuhan memang berkehendak untuk mengehendaki umatnya hancur oleh penyembah-Nya sendiri? Apakah memang agama diciptakan hanya sebagai alat pemusnah umat manuisa? Tuhan punya jawaban sendiri.
            Tak lama, aku mendengar teriakan lantang tak jauh dari sana. “Allahu Akbar!!!!!!”
            DUAAAARRRRRRR!!!!!!! BOOOOOOMMMBBBBB!!! DUAARRRRRRRRR!!!!
            Bom yang kedua kalinya pun diledakan di pom bensin. Meledak meninggi dan melebarkan suasana ledakannya. Ledakannya bagai bunga Morning Glory yang bermekaran, namun saja hanya di malam hari.
            Tumpahan jasad manusia bergelimpangn di tepi jalannya. Bensin yang tersimpan meluber sangat cepat menuju seluruh penjuru kota. Termasuk aku yang sudah terbalur bensin yang menandakan kematianku. Api yang berkobar segera menyeluruh menyebar mengikuti aliran bensin, memakan semua yang telah dilewatinya, dan membakar segala isi yang ada bersamanya. Tak ada yang peduli.
            Di tempatku. Api segera mengejar diriku yang mungil di pinggir jalan ini. Aku hanya bisa terdiam tak menghindar. Dalam batinku, aku berkata memohon Langit menolongku. Dalam bisik, aku berkata;
            Malam ini adalah malam terakhir peradaban umat manusia, Langit.
0 Komentar untuk "Malam Ini Adalah Malam Terakhir Peradaban Manusia"

Back To Top