Menemukan Embun Senja





Oleh : Alifa Putri


Mataku masih menatap lekat sebuah bingkai foto di genggamanku. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya, tiba-tiba dadaku terasa sesak. Air itu kembali menggenang di pelupuk mataku. Satu persatu jatuh perlahan. Kenangan itu masih tergurat jelas dalam ingatanku. Hingga sekarang, begitu jalan cerita luar biasa mampu mengubah segalanya. Wening, aku sungguh merindukanmu...menjadi lebih dan lebih setiap waktu.
**
Kisah ini bermula saat tiga tahun yang lalu, kali pertama aku bertemu dengannya, Wening. Hari itu, tepatnya hari pertama tahun ajaran baru di kelas sebelas. Wening, seorang gadis kurus tinggi yang tak banyak bicara. Saat itu ia duduk sendirian di bangku paling depan.
“Duduk sendiri?” tanya ku pada gadis itu. Ia hanya membalas dengan anggukan.
“Aku duduk disini ya!” pintaku sambil memamerkan deretan gigiku. Seperti sebelumnya, ia hanya mengangguk. Tanpa pikir panjang, aku langsung duduk disampingnya, melepaskan tas punggungku dan meletakkannya di atas meja.
“Hai, aku Embun dari kelas sepuluh satu,” aku memperkenalkan diri seraya mengulurkan tanganku. Gadis itu menatapku heran, ia masih saja diam. Aku menelan ludah. Mengapa gadis ini sebenarnya? Atau jangan-jangan..ah, aku membuang jauh semua prasangka burukku.
“Ah, kamu pasti heran dengan namaku kan? Aku ga bohong kok, namaku Embun. Lengkapnya, Cahaya Embun. Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, yang penting panggil saja Embun.”
Gadis itu menatapku, lalu tersenyum kecil. “Namaku Wening. Wening Wahyuningrum.”
Ah, aku menarik nafas lega, akhirnya, gadis itu angkat bicara juga.
“Kamu dari kelas berapa, Ning?”
“Kelas sepuluh tiga,”
“Oh ya? Wah, kelas kita dulu berdekatan, tapi aku baru kali ini melihatmu.”
Wening tak menanggapi pertanyaanku, ia hanya menunjukkan ekspresi datarnya. Apa aku salah berbicara? Sekali lagi, aku menelan ludah. Siapa dia? Dan Ada apa dengannya?
**
Hari-hari terus berjalan, bagai air mengalir,  sejauh ini terasa menyenangkan. Setidaknya, di kelas sebelas ini, aku bisa fokus dengan jurusan yang aku pilih. Hingga hari ini pun, aku masih duduk dengan Wening. Tiap hari aku selalu sibuk bercerita tentang hal-hal apa saja yang ku alami kepada Wening. Dan Wening lah yang menjadi pendengar setiaku, walaupun hanya sedikit dari seluruh cerita ku yang ia tanggapi. Itupun hanya dengan beberapa patah kata.
Namun, di sisi lain, Wening malah membuatku penasaran dengan kepribadiannya. Ia jarang bercerita meskipun aku setengah mati memancingnya. Yah, sudahlah,aku memakluminya. Aku yakin,  semua akan berjalan apa adanya.
Hari ini, kami mendapat tugas kelompok biologi mengenai struktur dan fungsi sel. Kebetulan pengelompokkannya bedasarkan tempat duduk. Jadilah, aku dan Wening satu kelompok. Aku mengajak Wening untuk mencari referensi dari buku-buku lain yang lebih lengkap dan mudah dipahami. Setelah pulang sekolah, kami sepakat pergi ke perpustakaan kota untuk mencari materi.
“Aku mau ambil sepeda dulu ya, Ning. Kamu tunggu disini dulu aja,” pintaku pada Wening.
“Nggak usah pakai sepeda, Bun,” Wening menahanku.
“Lha? Kenapa? Kita naik apa dong kesana? Perpustakaan Kota lumayan jauh lho dari sini,” tanyaku heran.
Wening kembali diam. Inilah yang sebenarnya paling tidak ku sukai. Mengapa ia harus diam?
 “Baiklah, kita jalan kaki.” Aku mengalah saja, mungkin Wening ingin bercerita panjang lebar sepanjang jalan atau mungkin ia ingin menunjukkan sesuatu kepadaku. Ah, Wening...
**
Dugaanku ternyata salah, Wening tak bercerita apapun kepadaku. Ia malah sibuk mendongkakkan kepalanya menatap langit, sesekali menunduk melihat sekeliling, sambil memainkan jari-jarinya. Aku tak mengerti, apa yang ia lakukan?
“Wening,” panggilku.
Wening menoleh, menghentikan langkahnya. Ia masih sibuk dengan jari-jarinya. Aku ikut berhenti.
“Kamu sedang apa sih, Ning? Asyik banget kaya nya. Jangan-jangan sibuk mikirin pelajaran statiska tadi ya?” godaku sambil nyengir.
Wening tersenyum, menggeleng. “Enggak kok, Bun,” jawabnya lembut.
“Terus, ada apa, Ning? Jangan sungkan untuk cerita, aku sudah bilang berkali-kali, aku pasti mendengarkan ceritamu kok, atau barangkali bisa ku bantu carikan solusi. Ayo, Ning.” Aku menggenggam lembut tangan Wening, mencoba meyakinkannya.
Wening kembali menggeleng, “Semua baik-baik aja, Bun. Aku hanya menghitung daun-daun yang berjatuhan dari pohon. Itu saja.”
Aku melongo, untuk kesekian kalinya, aku menelan ludah. Hei, untuk apa menghitung dedaunan yang jatuh. Aku penasaran, tapi mulutku bungkam, kelu untuk bertanya. Ah, Wening, apa yang sebenarnya terjadi?
Sepanjang perjalanan, aku menerka-nerka, mengumpulkan hipotesis-hipotesis yang ada. Duh, apalah ini? Sebenarnya aku tak mau terlalu ambil pusing, tapi gejolak ini memaksa untuk mencari tahu.
**
“Bun, kamu tau bagaimana proses terjadinya embun?” tanya Wening sambil berbisik ditengah ketenangan perpustakaan kota
Aku menoleh, menatapnya beberapa detik “ Jadi begini, di siang hari benda-benda menyerap panas dari matahari. Udara yang panas ini akan menahan uap air. Sedangkan di malam hari benda-benda kehilangan panas. Udara yang lebih dingin tidak dapat menahan uap air sebanyak udara yang lebih hangat. Nah, kelebihan uap air itu kemudian berubah menjadi titik-titik air. Titik-titik air inilah yang kita lihat sebagai embun di pagi hari,” jelasku kepada Wening. Aku tentu mengingat proses itu, proses asal mula namaku. Wening mengangguk mengerti, namun tampaknya ia belum puas dengan jawaban yang ku berikan. Matanya memandang kedepan, menerawang.
“Memangnya ada apa, Ning?  Kan nggak ada hubungannya sama sel..Oh, jangan-jangan kamu pasti penasaran ya kenapa aku diberi nama Embun?” terka ku sambil cengar-cengir.
Wening menggeleng. “Apa embun hanya ada di pagi  hari? Bisakah aku menemukan embun senja? Adakah embun senja itu?” Kini mata bening Wening menatapku penuh harap. Aku menelan ludah, Oh...Wening, apa lagi maksud semua ini? Apa semuanya harus ku tafsirkan satu-persatu? Aku menghela nafas.
“Ah, Wening..kamu ini ada-ada saja,” aku mencoba mengelak pertanyaan multitafsirnya.
“Aku serius, Bun. Tolong, aku yakin kamu bisa menolongku, jelaskan apakah kita masih dapat memahami keadilan bahkan disaat diri kitapun terjebak dalam keputus-asaan.? ” suara Wening melemah, tatapan matanya kini benar-benar menusuk mataku. Kali ini aku yang diam menunduk tak berani membalas tatapan sendu Wening.
**
            dua hari berlalu, aku hanya bisa bertengger di atas tempat tidur gara-gara flu berat dan demam. Ah, bisa dibayangkan betapa membosankan Untungnya penyakitku tidak serius, kata dokter, aku hanya perlu istirahat yang cukup dan hari ini aku sudah bisa kembali masuk sekolah.
            “Hai, Embun sudah sehat? ” tanya Tantri, teman sekelasku.
            “Udah dong, wajah udah seger begini,” jawabku sambil cengar-cengir.
            “Oya, Bun, Wening kemana? Dia sakit juga? Kok sejak dua hari yang lalu juga dia nggak masuk sekolah,” sambung Tantri.
            Aku mengernyitkan alis. Wening tidak masuk? Jangan-jangan...
            “Memangnya tidak ada surat izin atau pemberitahuan?” tanyaku penasaran. Tantri menggeleng. Sudahku duga kan!
**
            Minggu depan ujian tengah semester sudah dimulai. Sudah satu bulan lebih Wening menghilang tanpa kabar. Semua orang bertanya-tanya. Berkali-kali aku dipanggil oleh guru BK untuk memberikan keterangan, tapi apa daya? Aku juga sama sekali tidak mengetahui keberadaan Wening.

            “Apakah tidak ada anggota keluarga lain yang bisa dihubungi lagi, bu?” tanyaku kepada Bu Tika, guru BK kelasku.
            Bu Tika hanya menggeleng, aku menangkap kekecewaan di raut wajahnya. Aku menghela nafas, ingin menangis juga rasanya. Bagaimana tidak? Apa yang sebenarnya terjadi pada Wening? Kalau pun dia sakit, kenapa tidak mengirimkan surat izin atau surat keterangan dokter agar urusan tidak menjadi serumit ini. Oh, Wening..kenapa kau membiarkan kami terlantar untuk menafsirkan semua ini?
            “Embun, bagaimana kalau hari ini kamu dan ibu mendatangi rumah Wening?” tanya Bu Tika.
            Dengan cepat aku mengangguk setuju. “Kapan ,bu?”
“Sepulang sekolah , ya, nak. Nanti ibu tunggu di gerbang utara.”
Selama ini Wening tak pernah mengajakku untuk berkunjung ke rumahnya sama sekali. Ini mungkin kesempatanku...Ya Tuhan, izinkanlah aku bertemu dengan Wening, ku mohon...Huh, kini air itu benar-benar jatuh.
**
Aku dan Bu Tika saling bertatapan. Bu Tika memberi isyarat kepadaku untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok..tok..tok..Assalamu’alaikum...Assalamu’alaikum..
Hampir 5 menit lebih kami menunggu, tapi tak ada satupun jawaban, hingga akhirnya seorang wanita paruh baya menghampiri kami.
“Cari siapa, neng?”
“Maaf ini benar kediaman Wening? Wening Wahyuningrum?” tanya Bu Tika.
“Wening sudah pindah,” jawab wanita itu
“Kemana? Memangnya ada masalah apa ya? Soalnya Wening sudah lama tidak masuk sekolah?”
Wanita itu seketika terkejut. “Lho, Ibu belum tau? Wening sedang dirawat di Rumah sakit semenjak ia pindah.”
Aku terdiam, kehabisan kata-kata. Wening sakit apa? Selama itu kah?
**
Segera aku dan Bu Tika berjalan beriringan menuju ruang mawar 2. Tempat Wening dirawat. Saat itu juga pemandangan memilukan ku dapatkan. Wening tergeletak lemah dengan berbagai selang hampir di seluruh badannya. Aku menarik nafas dalam.
Tak lama setelah kedatangan kami, seorang wanita datang membawa koper. Ia menatap kami kebingungan.
“Siapa kalian? Sedang apa disini?” tanya wanita itu.
“Maaf, saya Tika, guru dari ananda Wening.”
“Ba..bagaimana Ibu tau kalau Wening disini? Sebaiknya sekarang kalian pergi, Wening tak ingin diganggu!”
“Tapi, bu...”
“Sudah, pergi sekarang!” suara wanita itu meninggi.
“Embun...” sebuah suara lirih menyebut namaku.
“Wening! Iya ini aku Embun” tanpa berpikir panjang aku berlari mendekati Embun. Air mata ku tumpah seketika. Betapa aku merindukan sosok dihadapanku saat ini. Wanita tadi pun menangis. Memilukan sekali suasana disini.
“Wening kenapa?” tanyaku dengan suara serak. Wanita itu menatapku pasrah, ia tersungkur.
**
Ternyata wanita tadi adalah Ibu Wening. Aku baru tahu bahwa Wening adalah anak yatim. Dengan suara serak dan isakan ibu Wening bercerita panjang lebar. Wening sakit, benar-benar sakit. Kedua kaki Wening kini lumpuh. Dokter belum mengetahui pasti penyakit yang Wening derita. Penyakit itu menyerang syaraf dan otak Wening. Wening akan kehilangan fungsi organ tubuh nya satu persatu.
Oh, Tuhan..cobaan berat inikah yang kau berikan untuk Wening? Saat itulah aku mulai memaknai Embun Senja dan dedaunan jatuh yang Wening hitung. Mulai sejak itu juga, aku sering menjenguk Wening. Aku selalu berdoa untuk kesembuhan Wening. Aku bercerita banyak hal kepada Wening, walaupun ia terlelap dalam tidurnya, walaupun aku tak mendapat jawaban apapun darinya, aku akan terus bercerita untuk Wening. Aku akan selalu disamping Wening.
 Wening, aku harap kamu cepat sembuh dan kembali duduk disampingku, mendengar cerita-ceritaku, seperti dulu.
**
Wening mengerjap-ngerjap matanya, Wening siuman! Wening membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu.
“Apa sayang ? Kamu mau apa? Biacara saja, Nak,” ucap Tante Elda-Ibu Wening- sambil berlinang air mata. Wening kembali membuka mulutnya, kali ini ia mengeluarkan suara, tetapi tak jelas seperti biasanya.
Aku mulai kebingungan, Tante Ela menatapku, sesaat kemudian Tante Elda terduduk, ia menarik nafas dalam dengan tetesan air mata yang deras.
“Wening kenapa, Tante?” tanya ku khawatir. Tante Elda menggenggam tanganku, dan memelukku erat.
“We..we..wening, tidak bisa bicara lagi..” jawabTante Elda terisak-isak.
**
Hidup adalah sebuah misteri yang tak pernah kita sadari
Sebuah ilusi yang membutakan hati
Oh, sekedar terhenti , takkan kembali
Oh, siapa yang akan peduli
dengan kepiluan yang merobek hati
Oh, keputus-asaan yang menghampiri
Haruskah ku hitung satu persatu butir hujan
yang tumpah membasahi hati

Senja yang indah, sesuai dengan janjiku kepada Wening, aku akan mengajaknya berjalan-jalan sepanjang pantai. Menyenangkan sekali, menikmati langit senja seraya menunggu sunset. Wening pasti akan senang sekali, gumamku dengan senyuman lima senti.
Aku membuka pintu kamar inap Wening. Senyap sekali. Wening masih terbaring dengan selimut yang menutupi wajahnya. Aku melangkah mendekat, mencoba membuka selimut yang menutupi wajah Wening.
Hik..hik..hik
“Wening,” ucapku terpaku melihat pemandangan di hadapanku.
“Wening, kamu kenapa?” tanya ku khawatir. Wening menunduk.
“Wening ada apa? Ayolah, ning. Jangan buat aku khawatir. Ada yang sakit? Aku panggilkan dokter dulu, kamu tenang disini,” tukasku sambil melangkah keluar.
“Tu’u buh!1” Wening menarik tanganku.
“Ebuuh, ma’ a au..ma’ a au ta ia iat ai,2” jelas Wening kepadaku. Ia menunjuk-nunjuk matanya. Aku mendekati Wening kembali.
Seluruh tubuhku gemetar, sambil memaksa memejamkan mata, aku menarik nafas panjang. “Wening..” panggilku dengan suara bergetar
“Wening, kamu bisa mendengarku kan?” tanyaku sambil merengkuh tangannya.
Wening mengangguk dengan sisa isakannya. Aku kembali menarik nafas. “Wening, tatap aku, ning.”
Wening menggeleng. “Wening, tatap aku, ku mohon,” pintaku sekali lagi, suaraku kian bergetar. Wening menegakkan kepalanya. Tatapannya kosong. Aku membalas tatapan memilukan itu. Saat itu juga aku memeluk Wening dengan erat-erat. Aku menangis, benar-benar menangis. Air mata itu tumpah tak tertahankan. Seperti yang dikatakan dokter, lambat laun Wening akan kehilangan fungsi organ tubuhnya satu persatu. Dan lihatlah! Betapa gadis malang ini pun telah kehilangan kedua matanya. Oh, Tuhan..
Ruangan ini senyap, hanya menyisakan isakan pilu kami berdua.
**
Kami berjalan menyusuri bibir pantai. Langit senja yang indah. Aku berhenti mendorong kursi roda Wening dan mengahadapkannya ke lautan lepas.
“Wening, kau tau, betapa bebasnya saat kita bisa beteriak di lautan lepas,” ucapku pada Wening. Wening tersenyum. Oh, lhatlah kini wajah cantik Wening terkena tempias cahaya senja.
“A’ u eang eh. A’ u eang ah ia iat. Ai a’u au, aita ati iah an?3” bibir Wening susah payah berbicara. Walau agak kesusahan memahami kata-katanya, tetapi aku mengerti.



1 Tunggu, Bun !
2Embun, Mataku..Mataku nggak bisa lihat lagi!
3Aku seneng deh, Aku emang nggak bisa lihat, tapi aku tau, langitny pasti indah kan ?


 Aku mengangguk senang. “Wening..” panggilku.
Wening menoleh. “Wening, masih ingat dengan pertanyaan embun senja itu? Masih ingat dengan daun-daun yang berjatuhan saat itu?”
Wening mengangguk lemah.
“Wening..embun senja itu ada. Ia ada dan berkilau ditengah senja yang tak telihat. Ia bertahan di ujung daun saat daun lain berjatuhan. Wening, sekarang aku mengerti semua itu. Aku sungguh mengerti bahwa memang tak semua keadilan dapat kita pahami dan kita terima ditengah keputus-asaan kecuali dengan hati yang ikhlas. Kini aku mengerti, setiap orang memiliki kesempatan yang sama, tetapi ia memiliki batas untuk memanfaatkannya, hingga kesempatan itu terlalu lama menunggu, ia pergi dan terjatuh,” lirihku menahan isak. Air itu kembali menggenang dipelupuk mataku.
Wening meraba-raba tanganku dan menggenggamnya erat.
“Ima aih ah buh, a’ u aya ebuh, angaaat ayaaa!4
Aku memeluk Wening, erat. “Embun juga sayang Wening. Kamu sahabat terbaik yang Embun punya.” Aku menarik nafas, bertahan agar Wening tak tahu bahwa air ini jatuh dengan derasnya.
Wening..kaulah embun senja itu, embun senja yang sekian lama kau cari keberadaannya
Oh, langit senja, simpanlah pilu ini dalam senyap, biarkan angin membawanya pergi

TAMAT.
0 Komentar untuk "Menemukan Embun Senja"

Back To Top