Tanda Tanya Hati



Oleh : Tri Hartini Mulyaningtyas

            Masa remaja adalah masa dimana jati diri akan terbentuk. Sama sepertiku yang saat masih duduk di bangku SMA, keinginan mengetahui segalanya adalah mas remaja ini. Rasa penasaranku itu tak terbendung dan akhirnya aku memutuskan untuk mempelajari bagaimana rasanya benar – benar hidup, bukan hanya meminta pada orang tua untuk berhura – hura.
            Tasya anak desa yang tangguh, ia tiap hari mengayuh sepeda dari rumahnya ke sekolah, walaupun ayahnya telah meninggal sejak ia masih kecil ia harus tetap menjadi wanita yang kuat untuk bersekolah dan membantu ibunya untuk biaya hidupnya. Aku Rista anak kota yang hanya memikirkan bagaimana besok main, nanti untuk makan – makan sama temen, dan banyak yang mengeluarkan uang tanpa memikirkan gimana besok hidup atau besok tak punya biaya untuk sekolah dan makan sekalipun, tak tau gimana perjuangan untuk mendapat uang.
            Pekalongan disanalah aku tinggal, kota kecil dengan tipe hidup keras. Asap tebal dari kendaraan keluar dengan ayunan manisnya. Anak – anak sma memilih untuk pergi desa untuk mencari suasana dan udara yang segar. Aku dan teman – teman pergi memilih desa yang ada di lereng Gunung Perahu, desa yang asri akan udara dan suasanya.
            Sekolah mengadakan acara untuk sosial ke berbagai tempat untuk di tugaskan mempelajari kehidupan di daerah terpencil untuk beberapa hari.
            “Apa kami wajib buat ikut acara itu?nanti kami tak bias hidup disana!” teriak seorang dari belakang.
            “Kalian pasti akan merasakan hal yang berbeda dan akan merasakan kenyamanan saat disana!bapak yakin itu” jawab seorag guru senior sambil tersenyum.
            Seakan – akan mereka ragu dan memutuskan untuk keluar dan meninggalkan diskusi itu. Beberapa anak masih ikut dalam         diskusi itu.
            “Rista, apa kamu akan ikut acara sosial yang diadakan sekolah bulan depan?” tanya susi berjalan mendekatiku.
            “Mungkin aku akan ikut dalam acara itu, tapi aku tak mau ikut rombongan dari sekolah, aku akan melakukan perjalanan sendiri.”jawabku kesal.
            “Benarkah?” sintya terkejut.“tentu itu!”jawabku sambil meninggalkan mereka.
            Sore harinya Sintya, Susi, dan Aku, berkumpul di rumahku untuk membicarakan tentang acara sosial dari sekolah itu.Ratih pembantu dari aku masih kecil hingga aku sma masih tetap setia bekerja di rumah, ia selalu menyiapkan hidangan berupa makanan kecil dan minum untuk teman – temanku yang selalu main ke rumahku. Ayah, ibuku yang sibuk dengan urusan pekerjaannya yang menjadi direktur di sebuah perusahaan besar di Pekalongan.
            Kita membincangkan kapan kita akan berangkat untuk pergi ke daerah tujuan kita, acara di sana akan kita isi dengan kegiatan apa?saat ini kita perbincangkan bersama. “Bagaimana kalo kita disana nanti mengamati cara mereka bekerja?” Susi duduk di sampingku.“Jangan!” Susi memotong cepat “Kalo menurutku itu terlalu basi dan mainstream, dan pasti laporan kita nanti tidak menarik!disanakan banyak tuh kebudayaan atau adat – adat yang di sini nggak ada.kita ambil aja sebagai laporan kita kebudayaan sosial disana”Sintya menjelaskan.
            “Oke” aku menyutujuinya
***
            Terik sinar pagi menyorot melewati celah – celah kaca jendelaku dengan bergegas aku bangun dan menyiapkan untuk pergi ke sekolah, mobil yang terparkir di depan rumah sudah siap, sarapan yang menu makanan yang aku inginkan pun sudah siap. Bergegas setelah semuana selesai dan siap, aku menuju ke sekolah dengan mobil jazz hadiah ulang tahunku ke 17 dari ayah bulan lalu.
            Seperti biasaya aku menjemput Sintya dan Susi untuk berangkat bersama, dan seperti biasa pula aku mendapati tempat parkir yang khusus karena aku sangat dihormati dalam 3 angkatan. “Aku akan beli snack di kantin!kalian duluan saja ke kelas” dengan meninggalkanku dan Sintya, Susi bergegas ke kantin. Tanpa menjawab Susi, aku segera menuju kelas XI – MIPA 4 yang tepat bersebelahan dengan kantor kesiswaan. “Kau ke kelas taruh tasku di sampingmu”pintaku, “Aku akan ke pak yanto untuk membicarakan kegiatan yang akan kita laksanakan minggu depan itu.”
            Setelah aku menemui Pak Yanto di ruang guru, akhirnya kita diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan itu sendiri. Sepulang sekolah kita bersiap untuk berangkat ke desa yang kita tuju. Segala sesuatu yang kita butuhkan di sana kita masukkan ke dalam mobil Jazz merah yang terparkir di depan rumah Sintya.
***
            Malam itu kita sampai, langsung menuju ke rumah kepala desa. Rumah yang di atas jalan menuju perkampungan, mengawali rumah – rumah desa tersebut.
Suatu pagi di desa yang terpencil, matahari menyorot dengan indah, burung berkicau riang, sepoy – sepoy angin menyambar kulit yang tipis.
“Permisi, pak, apakah pagi ini kita bias langsung bisa turun ke lapangan untuk melakukan penelitian yang itu menjadi tujuan kita?”tanyaku ke kades.
“Sepertinya pagi ini, kalian berkenalan dengan warga desa dahulu supaya kalian tidak di tuduh penyusup ke desa. Karena warga desa belum mengenal kalian” jawab pak kades.
“Sebelum berangkat ayo kita menuju ke ruang makan untuk sarapan dulu.” Bukades keluar dari dapur dan masuk kembali.
Perbincangan kita di ruang makan membawa suasana kita menjadi damai dan nyaman untuk tinggal di sini, karena pak kades dan bu kades sudah di tinggal anak cewenya pergi ke kota mereka sukses di kota.
***
            Di balai desa sudah disambut warga desa dan karyawan. Mereka bersorak – sorai karena baru kali ini orang kota mau bersinggah di desa mereka. Orang asli desa saja yang sudah sukses di desa tak mau kembali lagi ke sana, apalagi orang lain yang tak mengetahui daerah yang sangat terpencil seperti itu? “Kenapa kalian bertiga mau disini?”tanya salah satu warga. “Kami ingin tau budaya yang ada di Indonesia ini dengan turun langsung mempelajarinya.”jawab Susi.
            “Kami di sini bukan melihat kekurangan desa dan warga di sini, kami melihat kebaikannya untuk kita laporkan ke sekolah agar kita masukkan ke kabar berita kalau budaya di sini masih sangat kental”lanjut Susi menjelaskan.
            “Kami sangat berterima kasih kepada kalian”jawab sekertaris pak kades
            “Kita di sini juga sangat senang, soalnya di kota sana tak ada suasana se indah dan se asri di sini.”jelasku
            Seperti biasanya warga desa setiap pagi pergi ke sawah untuk bercocok tanam. Kita hari ini mulai untuk meneliti kebiasaan mereka sekaligus belajar untuk merawat tanaman di sawah.
***
            Semuanya tidaklah mulus begitu saja, banyak masalah yang mereka hadapi di desa itu, ada seorang cewe desa yang kurang suka mereka, karena mereka dari kota takut mereka merusak budaya mereka dan menggantikan budaya kota yang sekarang amburadul. Dengan segala dalih apapun cewe itu merusak kepercayaan warga desa kepada mereka.
            “Kami tak pernah ada satu niat pun untuk melakukan hal itu!”Susi sedikit membentak
            “Kami tak percaya, kalian di depan kita semua baik, tapi kalau tak ada kami yang mendampingi kalian, kalian benar – benar jahat!”warga desa emosi tinggi.
            “Oke – oke, kita akan meninggalkan desa ini sore ini, untuk ketentraman kalian disini semua”jawabku tegas!
            Setelah cukup untuk berpamitan ke pak kades kita segera bergegas meninggalkan desa, saat kita samping di pinggir desa itu, kita bertemu seorang gadis cantik yang membawa dagangan khas desa yang kita tempati.
            “Sebelum kita pulang, sepertinya kita harus sekali lagi membant warga desa ini dengan memborong semua dagangan cewe kalem itu!
            “Mbak, berhenti. Aku mau beli semua dagangannya, untuk oleh – oleh!”Sintya berteriak dari dalam mobil.
            “Ini kan mbak – mbak yang tinggal di desa sayakan?”cewe itu menanyakan heran.
            “Iya, kenapa memangnya, mukamu bingung?”jawabku agak curiga
            “Gak, kenapa mbak beli oleh – oleh? Mbak mau pulang, bukannya  belum lama tinggal di sini, tidak betah ya tinggal di desa ini?”cewe itu bertanya tanpa jeda, yang membuat kita bingung untuk menjawab dari mana kita akan menjawabnya.
            “Kita tak bosan, tinggal di sini, tapi ada orang yang tak suka kedatangan kita.”jawabku santai.
            “Eh btw namamu siapa ya?”lanjutku
            “Aku Tasya, mbak – mbak ini namanya siapa? Aku kemarin tak sempat dan tak berani untuk tanya”
            “Aku Rista, ini teman – temanku Sintya dan Susi”aku mengenalkan mereka pada Tasya.
            “Apa mbak – mbak mau tinggal di rumahku untuk sementara waktu?”Tasya menawari dengan baik.
            “Emmm… boleh juga, tapi kamu jangan bicara pada pak kades ya”
            “Siap!”
                                                            ***
            Pagi buta sebelum kita semua bangun Tasya dan ibunya sudah menyiapkan makanan dan dagangan yang harus di jual hari ini. Tasya yang sudah di tinggalkan ayahnya sejak ia kecil, tapi ia sangat kuat dan tegar. Setiap pagi ia harus mengambil air ke sungai yang jaraknya lumayan dari rumah.
            Saat kita bangun, Tasya menyambutnya dan mengajak kami untuk sarapan “Rista, Sintya, Susi ayo sarapan, tempat kita hanyalah begini dan dengan lauk seadanya, kita hanya mampu begini maaf ya kalau kalian tidak suka.”muka Tasya sangat lesu. “Kita dapat makan aja sangat bersyukur”jawabku
            “Rencana kalian sekarang mau gimana?”tanya ibu Tasya.
            “Gimana kalau kita meneliti ibu dan Tasya sebagai obyek penelitian kita? Kami sangat tertarik, ingin belajar bekerja keras biar gak semua tergantung orang tua”kita memohon
            “Kami sangat menerima itu, tak apa kalian mau belajar besama kami”ibu menyambut dengan ramahnya.
            “Dengan senang hati”Susi tersenyum.
            Tiga hari berlalu, kita tinggal di rumah Tasya dengan keadaan seadanya. Kita mendapat pelajaran yang sangat berharga, bukan hanya hasil penelitian mereka juga dapat pengalaman.
            Setelah lima hari tinggal di sana, akhirnya kita kembali pulang ke Pekalongan dengan mobil jazz merah itu.
***
Keesokan harinya kita memberikan laporan ke Pak Yanto kalau kita telah melakukan penelitian yang diadakan oleh sekolah. Sedangkan teman – teman yang melihat laporan dan sebagian hasil jepretan kita di sana, mereka terpukau dengan desa daerah sana.
                                                            ***
            Warga desa yang terjebak oleh fitnah cewe desa itu akhirnya mereka menyadari, semua omongan cewe itu adalah boong semata. Dan mereka tau kita tinggal di rumah Tasya selama lima hari, saat kita pulang dan sampai di ujung desa, kita di kejar oleh seorang pemuda desa dan mengatakan kalau kita di undang ke balai desa oleh pak kades.
            Kita sempat ragu, mengapa masih saja di kejar, tak tau apa – apa dan tak melakukan hal konyol itu.
Saat sampai balai desa.
“Maafkan kami semua nak, kami tak bermaksud untuk mengusir dan kami sekali lagi meminta maaf. Apa kalian masih mau tinggal di sini untuk sementara waktu untuk menyelesaikan tugas penelitiannya?”pinta pak kades.
“Maafkan kami juga sebelumnya pak, mungkin kami juga melakukan hal yang kurang di terima salah satu warga desa, maaf juga, kita tidak bisa tinggal di sini lagi karna kita harus kembali ke kota”jelasku.
“Bagaimana kalau kami kasih oleh – oleh hasil sawah kami kepada kalian nak?”seorang kakek menyerahkan tiga buah jagung hasil sawahnya.
“Terima kasih kek, kita terima, kita tak akan melupakan kalian semua, terima kasih, sampai jumpa”
Sesudah semua berpamitan, kita bergegas pulang. Langsung menuju rumahku, dan beristirahat sementara di rumahku.
***
            Pak Yanto juga sangat menyukai hasil laporan kita dan bukti foto dari kita semua. Kita senang bisa membuat penelitian denga sukses, dan mendapat pengalaman. Aku ingin menciptakan Pekalongan seperti desa itu yang asri dan indah, tanpa asap mobil yang tebal.
0 Komentar untuk "Tanda Tanya Hati"

Back To Top